Wed, 01 Mar 2006 17:40:26 -0800
Assalamu 'alaikum wr.wb.
Ada kebanggaan seorang "sister" sebagai seorang
muslimah yg tinggal di US, semoga ada hikmahnya buat
kita, amin.
Mohon maaf untuk yg tidak berkenan,
Wassalam Wr. Wb,
http://yartati.multiply.com
Assalamu 'alaikum wr.wb.
Beberapa waktu yang lalu kami menghadiri karnaval,
Eidkarnaval tepatnya, yang diselenggarakan oleh
salahsatu masjid di South-bay sini.
Lazimnya sebuah karnaval, tentunya meriah dengan
macam-macam fun-ride untuk anak-anak, cotton-candy,ada
juga stand-stand, dan tentu saja...mmm, makanan.
Menu yang disajikan kali ini kebanyakan ala pakistan
dan afganistan. Jadilah saya nyicip briyani dan
barbeque pakistani-nya.
Eh kok jadi cerita soal makanan. Membaca resep
bakso-nya uni Lila dan serba-serbi indomie-nya ummu
Itqon jadi laper deh. Dingin-dingin begini asik kali
enak makan bakso pedess. Wah, maaf nih keterusan.
Soal makanan tadi, ini memang ada hubungannya dengan
cerita yang ingin saya tuliskan.
Tengah asik menyuapi si kecil sambil mengawasi
kakak-kakaknya naik merry-go-arround (waktu saya bocah
dulu,di kampung saya namanya korsel atawa komedi
putar), tiba-tiba seorang sister melintas tergesa di
hadapan saya. Tadinya sih mau lewat begitu saja, tapi
ketika melihat wajah saya, dia lantas berbalik
mendekat dan duduk tepat di sebelah.
" Ah sukurlah bukan orang Arab." ujarnya sambil
menghela nafas seraya menarik sedikit kerudung di
kepalanya yang mencong-mencong.
" Assalamu'alaikum, sister. Apa kabar ?" tanya saya
mencoba menyapa dengan ramah.
" alaikum salam. yah baik-baik saja. Anda berasal dari
mana sister ?"
" Indonesia." jawab saya.
" Di mana itu ya?" tanyanya,"sebelah mananya negara
arab?".
Ah tipikal. Hampir semua orang di lingkungan muslim
pun tidak tahu di mana itu Indonesia, atau barangkali
tidak tahu apakah itu nama negara atauhkah
jenis makanan. Saya jelaskan sedikit sekalian ngasih
tahu kalau Indonesia itu negara dengan penduduk muslim
terbesar di dunia. Dia cuma bengong seperti tak
percaya.
" kok tidak pernah kedengaran ya." komentarnya. Nah
kalau sudah begini, selain mangkel, sedih juga
rasanya.
Kita, muslimin Indonesia yang ratusan juta jumlahnya
seperti tak pernah kedengaran perannya sebagai kaum
penebar rahmat. Bukan sekali dua kalau bertemu sisters
mancanegara di sini, mereka tidak tahu Indonesia
apalagi perannya sebagai pembela ummat Islam.
Bagaimana tidak mengherankan, kalau di negeri sendiri
saja ummat Islam sudah dipecundangi dengan sangat
memalukan.
" Mungkin anda saja yang lupa pelajaran geografi."
kata saya sembari memandang wajah arab yang cantik
ini, putih kemerahan warna kulitnya. Sayang, ada
gelisah di matanya.
" Anda sendiri dari mana ?" tanya saya. Dia sebutkan
negara asalnya.
" Anda tahu di mana itu ?" tanya sister itu.
" Oh tentu saja. Salah satu negara Arab dan..." saya
sebutkan beberapa negara lain yang berbatasan dengan
negerinya itu serta produk terkenal yang dihasilkan
negaranya.
" Anda tahu semua itu ?" tanyanya heran. Saya
tersenyum.
" Maaf,no offense, anda kan bukan orang arab, kenapa
anda pakai hijab ?" tanya nya tiba-tiba. Belum sempat
saya jawab, sister ini buru-buru melanjutkan.
" actually..., hijab ini bagi saya adalah beban. Itu
sebabnya saya tidak mau kembali ke negara asal saya,
tidak bebas, di sini saya bebas. .."
" Mengapa anda berpikir begitu ?" tanya saya.
" Yah anda tahu kan, kami di negara arab diwajibkan
pakai hijab oleh negara. Tidak ada kebebasan bagi
wanita...tapi di sini saya bisa berbuat apa saja. Oh
ya saya pakai hijab begini sewaktu-waktu saja, kalau
ada acara khusus...sebenarnya saya juga tidak suka
bertemu orang arab, mengingatkan saya pada kebodohan
dan kekasaran saja..."
" Lalu bagaimana anda bisa sampai ke US ?" tanya saya.
" Waktu itu ada program pertukaran pelajar keperawatan
dan saya termasuk yang dikirim kesini. Setelah program
selesai, saya bertekad untuk tidak kembali. Saya sudah
bulat hidup mati di sini. Tapi saya butuh pegangan
supaya bisa tinggal di sini kan ? Karena itulah lantas
saya kawin dengan orang Bule. Status saya berubah.
Saya sudah citizen di sini sekarang..." ujarnya dengan
nada
bangga." Saya tidak harus pakai hijab. Saya bisa punya
pekerjaan yang baik. Masa depan saya terjamin."
lanjutnya.
" Jadi anda bahagia sekarang ini ya ?" tanya saya,
penasaran mengamati mata lentiknya yang resah.
" Ah jangan begitulah..." ujarnya seraya membuang
pandangan jauh kedepan. Dihelanya nafas panjang.
" Anda tanya soal perkawinan saya kan ? Anda tahu
sendiri, orang di sini pagi kawin, sore bisa cerai
lagi. Atau kalaupun kawin tidak ada jaminan bakalan
setia, maksudku...yah sewaktu-waktu ganti
pasangan...atau punya kencan lain...atau tak perlu
kawinlah...bikin bengkak beban tax saja...ya memang
kadang saya masih ketemu dia..."
" Bukan soal itu," kali ini saya yang memotong.
" maksud saya anda sudah peroleh kebebasan yang anda
inginkan ...apakah anda masih akan terus menghindar
dari bangsa anda ?"
" Memang begitu. Kadang saya ingin datang juga ke
perayaan muslim macam Ied ini, sekadar datanglah,
makan-minum, ketemu menu yang cocok di lidah. Tapi
saya memang nggak nyaman deket-deket orang arab. Nanti
dikatakan orang sini teroris lagi ....saya malu kalau
orang-orang tahu saya ini muslim." jelasnya.
Saya jadi teringat cerita seorang teman dari Mesir
sewaktu baru pindah rumah. Tiba-tiba saja tetangganya
datang memohon, " Please, jangan ledakkan rumah saya."
Astagfirullah. begitu buruknya gambaran tentang orang
Arab atau orang Islam di negeri ini.
"Eh anda belum jawab pertanyaan saya tadi soal hijab."
sister itu mengingatkan.
" Negara kami tidak pernah mewajibkan hijab. Kami
berhijab karena kesadaran. Pada mulanya ini pilihan
yang sangat sulit. Sebagian dari kami telah kehilangan
pekerjaan bahkan kesempatan untuk sekolah karena
berhijab. Sebagian lagi mengalami cacat seumur hidup
akibat penyiksaan karena memakai hijab. Belum lagi
hinaan dan cemoohan. Tapi muslimah di sana tegar
dengan pilihannya. Semakin ditekan, kesadaran berislam
semakin tumbuh subur. Jadi sangat ironi dengan apa
yang terjadi pada diri anda..."
" Hey, bukankah negara anda muslim terbesar...?"
" Memang benar. Sebagian dari kami percaya bahwa
pemerintah sangat toleran dengan kaum non muslim. Demi
toleransi ini, kalau perlu mayoritas mengalah
...begitulah kira-kira, selain banyak lagi masalah
lain yang rumit yang tidak bisa anda bayangkan." entah
mengapa masih saja ada pembelaan dalam jawaban saya.
Seburuk-buruknya negeri kita, rasanya masih saja tak
rela untuk menyebutnya di depan bangsa lain.
" Jadi kalau negaramu tidak mengharuskan, kenapa kamu
mau pakai hijab ? bodoh sekali bukan ?" tanyanya lagi.
" Seperti saya katakan tadi, kami melakukannya karena
kesadaran sebagai muslimah. " jawab saya.
" Apa maksudmu ? saya juga muslimah." sanggahnya.
" Tahukah anda bahwa tanpa diwajibkan oleh negara anda
sekalipun, kewajiban berhijab itu tetap ada ? " saya
balik bertanya.
" Anda membingungkan." jawabnya.
" Lihatlah ini." jawab saya sembaring menyodorkan
qur'an saku padanya. Saya bukakan ayat tentang hijab
di surat al Ahzab.
" Maksudmu kewajiban itu adalah perintah Tuhan ..?"
tanyanya.
" Tidakkah anda tahu ? atau pernah membacanya ?"
" Mmm, no." jawabnya ragu. Saya jadi berpikir
jangan-jangan sister ini bahkan tidak punya qur'an di
rumahnya.
" Anda boleh menyimpannya." lanjut saya. Ia nampak
ragu. " Maaf qur'an ini memang sudah lusuh. Maklumlah
saya memilikinya sejak lebih dari 13 tahun lalu waktu
masuk universitas. Setidaknya simpanlah, sampai anda
punya yang baru..." saya berusaha meyakinkannya.
" astaga..selama itu anda menyimpannya ?" tukasnya.
Saya tersenyum. " Yah dia teman saya saat sendirian.
Hanya saja saya agak kesulitan menghafalnya, mungkin
karena tidak mengerti bahasanya. Karenanya saya selalu
membawanya untuk membaca dan mengingat perintah Tuhan.
Anda beruntung lahir di negara yang berbahasa al
Qur'an." ujar saya. " Anda tahu, Kebebasan bagi saya
adalah terbebasnya dari segala bentuk penghambaan
kecuali kepada Allah. Itu sebabnya bagi saya berhijab
adalah salah satu bentuk kebebasan, bukannya beban
seperti yang anda rasakan. "
Dia diam saja. Saat itu hujan mulai turun
rintik-rintik. Si sulung dan si nomor dua datang
sambil berlari-lari kecil.
" Is it ashr time ?" tanya si sulung. Saya jawab insya
Allah sebentar lagi.
" Ok," jawab si sulung. " Let's wudu" ajaknya kepada
adiknya. Saya ikuti mereka dengan pandangan sayang.
Walau kadang bandel, syukurlah kalau soal shalat
mereka sangat cinta.
" Mereka anakmu juga?" tanya sister itu lagi.
" Ya" jawabku.
" Berapa umurnya ?"
" Yang besar hampir 6 tahun, adiknya 4, dan si kecil
ini dua bulan lagi tepat 2 tahun." jawab saya.
Sister itu terdiam.
" Kalau kamu jadi saya, apakah kamu akan stay di
negara arab ?" tanyanya tiba-tiba.
" Di manapun kita harus berjuang untuk kebebasan yang
sesungguhnya. Berjuang untuk menegakkan nilai-nilai
Tuhan. Meski itu di negara Arab. Bila itu yang anda
perjuangkan, dimana pun insya Allah saya mendukung
anda" jawab saya.
" Kalaupun tinggal disini, bila hanya jadi budak
nafsu,tidak akan memberi kebahagiaan. Anda harus
berjuang untuk kebebasan yang sebenarnya..."
Sore makin terasa dingin. Waktu saya ajak ke dalam
masjid untuk shalat ashar, dia menggeleng.
" Saya harus pulang." tuturnya. Dia melangkah
perlahan, kali ini tidak tergesa seperti tadi. Saya
berdoa mudah-mudahan saja ia masih ingat cara shalat.
Di dalam masjid saya berjumpa sister Khadijah dari
Palestina. Entah mengapa tiba-tiba ia berkata,
"Sesungguhnya tugas terberat kami adalah
....mengislamkan orang-orang Arab sendiri,".
Berceritalah ia tentang sebagian bangsanya yang malu
mengaku dirinya muslim. Apa saja dilakukan asal bisa
terbebas dari atribut keislaman yang identik dengan
terorisme, keterbelakangan dan belenggu kebebasan.
Teringat saya dengan kondisi di negara kita yang
sebenarnya tidak jauh berbeda. Jalan ini masih amat
panjang terbentang, mendaki lagi sukar. Kian lama kian
terasa seakan menggenggam bara.
Saya dan anak-anak pulang ketika gerimis makin
membasah. Dua jagoan kami berceloteh tentang karnaval,
sementara pikiran saya masih di pertemuan tadi.
Wa Islama....wa islama..., wahai Islam...wahai Islam,
begitulah bisikan syair yang terngiang di telinga
saya. Bagaimana kita bisa tegak penuh harga diri jika
umat Islam sendiri malu dengan agamanya ?
Bagaimana kita dapat menjadi penebar rahmat kalau kita
sendiri jauh dari firman sang Pemberi Rahmat?
Ah..saya jadi ingin merajut malam ini. Tidak, bukan
merajut rumah laba-laba yang rapuh tapi merajut
permadani yang kuat yang bakalan menerbangkan anak
cucu kami ke alam kebebasan,....bebas mencintai
tuhannya.
Wassalam,
Ema Kaysi
maryadie] Fwd: [Imsa-Sisters] Pada sebuah karnaval
(dari arsip lagi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar