Senin, 30 November 2009

kebebasan pers untuk masyarakat

Oleh Taufik Al Mubarak

Grove Paterson, seorang tokoh pers di Amerika mendefinisikan tanggung jawab sosial pers sebagai keharusan memastikan bahwa ‘koran adalah wakil masyarakat secara keseluruhan, bukan kelompok tertentu saja.'


Sebagai seorang anggota masyarakat yang peduli pada kebebasan pers, saya merasa sangat prihatin sekali terhadap kasus yang menimpa TEMPO. Keprihatinan saya cukup beralasan. Jika kebebasan pers dibunuh, maka sebenarnya bukan hanya kebenaran yang dibunuh melainkan juga keinginan bangsa untuk maju harus ditunda. Yang saya tahu, pembangunan suatu bangsa/negara sangat terkait juga dengan sejauhmana tingkat kebebasan pers di negara itu. Di negara-negara yang memiliki kebebasan pers relatif lebih baik, sering diikuti dengan pesatnya pertumbuhan di negara itu.

Atas alasan ini, TEMPO harus dibela sebagai pembelaan atas kebebasan pers. TEMPO harus dibela dari rongrongan—meminjam istilah Bambang Harymurti dalam pleidoinya: kekuatan jahat—yang hendak membungkam kebebasan pers di Indonesia yang mulai sedikit longgar. Karena sebenarnya bukan hanya kebebasan yang direnggut, tetapi juga kepentingan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara benar dan kritis.

Dalam sebuah Pelatihan Jurnalistik di Universitas Indonesia beberapa bulan yang lalu, seorang wartawan TEMPO (saya lupa namanya) menyampaikan tentang permintaan anak buah Tommy—yang menyerang kantor TEMPO—bahwa jika pihak TEMPO mau membeberkan nama narasumber TEMPO yang memberikan keterangan maka persoalan dengan TEMPO dianggap selesai. Dari itu saya menangkap bahwa TEMPO sudah bertindak secara cukup arif dengan melindungi saksi atau narasumbernya. Walaupun konsekuensinya TEMPO harus dituntut ke pengadilan.

Pernyataan itu teringat kembali ketika membaca Pleidoi Bambang Harymurti (Pemred TEMPO) seperti dimuat dalam TEMPO edisi 30 Agt-6 Sept 04. Saya melihat pemberitaan TEMPO “Ada Tomy di Tenabang” (Edisi 3-8 Maret 2003) sebagai informasi yang penting diketahui oleh publik. Walaupun dengan memuat pemberitaan seperti itu, pihak TEMPO harus berurusan dengan kelompok tertentu seperti Tommy Winata. TEMPO sudah menunaikan kewajiban/atau telah melaksanakan tanggung jawab sosial pers dengan menyiarkan pemberitaan tentang hal itu.

Dalam hal ini, TEMPO sudah berusaha menempatkan diri sebagai forum pertukaran pendapat, komentar dan kritik. TEMPO memerankan diri sebagai wakil dari masyarakat untuk melakukan kontrol sosial. Karena di sinilah letak “simbiosis mutualisme” antara TEMPO sebagai media dengan publik pembacanya. Di mana media perlu membangun relasi dengan publik yang diwakilinya dengan melemparkan suatu kasus atau masalah yang berhubungan publik untuk didiskusikan secara bersama-sama. Dengan begitu, akan mudah didapat titik terang atas suatu masalah, yang sebelumnya nampak sebagai misteri bisa menjadi jelas dan terungkap.

Apalagi kasus pasar Tanah Abang. Pembakaran pasar Tanah Abang bukan hanya pembakaran terhadap pasar grosir terbesar di Asia Tenggara melainkan juga “membakar” kesempatan berusaha dan harapan hidup masyarakat kelas bawah yang mengadu nasib di sana. Sisi ini juga harus dilihat secara benar. Bahwa negeri ini bukan hanya milik mereka yang punya akses ke kekuasaan dan modal besar, melainkan juga milik mereka yang secara sosial ekonomi kurang beruntung.

Di sini, sebenarnya TEMPO sudah berdiri di belakang kaum lemah dan memperjuangkan nasib mereka. TEMPO mencoba membantu mereka untuk mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Bahwa kasus terbakarnya pasar Tanah Abang bukan semata-mata peristiwa biasa, atau hanya sebagai musibah. Melainkan harus dilihat dari sisi yang lain sebagai permainan orang-orang “hebat” di negeri ini untuk meluaskan bisnisnya.

Berita itu sendiri merupakan hasil investigasi penulisnya yang mencoba menangkap pendapat masyarakat di sekitar tempat kejadian. Dengan model seperti ini, kebenaran atau duduk soalan suatu perkara dapat diketahui secara objektif. Dalam kehidupan seperti sekarang ini, setidaknya masyarakat perlu mendapatkan informasi lebih besar dari sebelumnya dari media. Informasi itu sendiri tidak hanya berasal dari sumber resmi. Rakyat juga harus didengar karena mereka juga punya hak mengungkap kebenaran.

Dengan begitu, setidaknya media sudah membantu pemerintah menjalankan tugasnya. Apa yang selama ini tidak mendapat perhatian dan hanya dilihat sebagai kasus biasa. Dengan adanya pemberitaan begini pemerintah bisa mencari tahu penyebabnya, setidaknya mengetahui persoalan yang dialami oleh rakyat yang menderita. Sehingga memikirkan bentuk penyelesaiannya.

Ukuran kebenaran dengan sendirinya tidak lagi ditentukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan/modal. Karena masyarakat kita bisa disebut sudah lebih cerdas dari sebelumnya. Masyarakat tidak mentah-mentah menerima pemberitaan media, melainkan juga akan mencari kebenaran di balik pemberitaan tersebut. Masyarakat kita adalah masyarakat sederhana di satu sisi dan masyarakat modern di sisi lain atau transisi menuju masyarakat modern. Dalam masyarakat sederhana—seperti definisi yang diberikan Komisi Kebenaran Pers Amerika dalam buku Media Massa dan Masyarakat Modern (terjemahan;2003)—kebenaran akan dicari dengan cara membandingkan pemberitaan media dengan informasi dari sumber-sumber lain. Sementara dalam masyarakat modern, isi media merupakan sumber informasi dominan, sehingga media lebih dituntut untuk menyajikan berita yang benar. Atas pertimbangan dua model masyarakat ini, TEMPO memuat berita seperti itu.

Di Indonesia sendiri, untuk sementara kita harus merumuskan ulang ukuran kebenaran pemberitaan sistem cover both side. Bagaimana operasional cover both side? Jika seorang wartawan melihat seorang polisi memukuli seorang masyarakat sampai meninggal, dan dia ada pada saat itu, apakah untuk keperluan cover both side dia harus mengkonfirmasi kepada atasan di polisi itu. Apakah lalu wartawan harus meragukan penglihatannya. Jika dia mengikuti kaidah cover both side, berita dia yang sebelum ditulis sudah benar menjadi abu-abu ketika menjadi pemberitaan.

Di sini saya tidak berada dalam posisi membela investigasi yang dilakukan oleh wartawan TEMPO seperti disampaikan dalam Pleidoi Pemred-nya, melainkan mencoba berbaik sangka pada pemberitaan TEMPO dan mencari kebenaran dari berita tersebut. Kadang-kadang kebenaran harus dicari dari sobekan-sobekan koran. Tugas media hanyalah menyampaikannya kepada publik pembacanya suatu kejadian atau peristiwa, lalu masyarakat yang menilai kebenaran berita tersebut walaupun harus berhadapan dengan orang-orang hebat itu.

Terakhir saya hanya bisa menyampaikan lewat tulisan singkat ini: Bebaskan TEMPO!! Jangan kriminalkan pers. Saatnya perkara pers harus diselesaikan dengan menggunakan UU Pers bukan KUHP. Pasal 63 ayat (2) KUHP menyatakan: “Jika suatu perbuatan, yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum, diatur pula dalam aturan pidana khusus, maka hanya khusus itulah yang dikenakan.” Dengan begitu, UU Pers merupakan lex specialist (aturan khusus) terhadap KUHP (generalist) dan peraturan perundang-undangan yang lain. Dalam perkara TEMPO, seharusnya UU Pers yang digunakan bukan KUHP.


Penulis adalah anggota masyarakat yang peduli kebebasan pers, freelance

Freedom yang sebenarx...

Wed, 01 Mar 2006 17:40:26 -0800

Assalamu 'alaikum wr.wb.
Ada kebanggaan seorang "sister" sebagai seorang
muslimah yg tinggal di US, semoga ada hikmahnya buat
kita, amin.
Mohon maaf untuk yg tidak berkenan,
Wassalam Wr. Wb,
http://yartati.multiply.com


Assalamu 'alaikum wr.wb.

Beberapa waktu yang lalu kami menghadiri karnaval,
Eidkarnaval tepatnya, yang diselenggarakan oleh
salahsatu masjid di South-bay sini.
Lazimnya sebuah karnaval, tentunya meriah dengan
macam-macam fun-ride untuk anak-anak, cotton-candy,ada
juga stand-stand, dan tentu saja...mmm, makanan.
Menu yang disajikan kali ini kebanyakan ala pakistan
dan afganistan. Jadilah saya nyicip briyani dan
barbeque pakistani-nya.
Eh kok jadi cerita soal makanan. Membaca resep
bakso-nya uni Lila dan serba-serbi indomie-nya ummu
Itqon jadi laper deh. Dingin-dingin begini asik kali
enak makan bakso pedess. Wah, maaf nih keterusan.


Soal makanan tadi, ini memang ada hubungannya dengan
cerita yang ingin saya tuliskan.
Tengah asik menyuapi si kecil sambil mengawasi
kakak-kakaknya naik merry-go-arround (waktu saya bocah
dulu,di kampung saya namanya korsel atawa komedi
putar), tiba-tiba seorang sister melintas tergesa di
hadapan saya. Tadinya sih mau lewat begitu saja, tapi
ketika melihat wajah saya, dia lantas berbalik
mendekat dan duduk tepat di sebelah.
" Ah sukurlah bukan orang Arab." ujarnya sambil
menghela nafas seraya menarik sedikit kerudung di
kepalanya yang mencong-mencong.
" Assalamu'alaikum, sister. Apa kabar ?" tanya saya
mencoba menyapa dengan ramah.
" alaikum salam. yah baik-baik saja. Anda berasal dari
mana sister ?"
" Indonesia." jawab saya.
" Di mana itu ya?" tanyanya,"sebelah mananya negara
arab?".
Ah tipikal. Hampir semua orang di lingkungan muslim
pun tidak tahu di mana itu Indonesia, atau barangkali
tidak tahu apakah itu nama negara atauhkah
jenis makanan. Saya jelaskan sedikit sekalian ngasih
tahu kalau Indonesia itu negara dengan penduduk muslim
terbesar di dunia. Dia cuma bengong seperti tak
percaya.
" kok tidak pernah kedengaran ya." komentarnya. Nah
kalau sudah begini, selain mangkel, sedih juga
rasanya.
Kita, muslimin Indonesia yang ratusan juta jumlahnya
seperti tak pernah kedengaran perannya sebagai kaum
penebar rahmat. Bukan sekali dua kalau bertemu sisters
mancanegara di sini, mereka tidak tahu Indonesia
apalagi perannya sebagai pembela ummat Islam.
Bagaimana tidak mengherankan, kalau di negeri sendiri
saja ummat Islam sudah dipecundangi dengan sangat
memalukan.
" Mungkin anda saja yang lupa pelajaran geografi."
kata saya sembari memandang wajah arab yang cantik
ini, putih kemerahan warna kulitnya. Sayang, ada
gelisah di matanya.
" Anda sendiri dari mana ?" tanya saya. Dia sebutkan
negara asalnya.
" Anda tahu di mana itu ?" tanya sister itu.
" Oh tentu saja. Salah satu negara Arab dan..." saya
sebutkan beberapa negara lain yang berbatasan dengan
negerinya itu serta produk terkenal yang dihasilkan
negaranya.
" Anda tahu semua itu ?" tanyanya heran. Saya
tersenyum.
" Maaf,no offense, anda kan bukan orang arab, kenapa
anda pakai hijab ?" tanya nya tiba-tiba. Belum sempat
saya jawab, sister ini buru-buru melanjutkan.
" actually..., hijab ini bagi saya adalah beban. Itu
sebabnya saya tidak mau kembali ke negara asal saya,
tidak bebas, di sini saya bebas. .."
" Mengapa anda berpikir begitu ?" tanya saya.
" Yah anda tahu kan, kami di negara arab diwajibkan
pakai hijab oleh negara. Tidak ada kebebasan bagi
wanita...tapi di sini saya bisa berbuat apa saja. Oh
ya saya pakai hijab begini sewaktu-waktu saja, kalau
ada acara khusus...sebenarnya saya juga tidak suka
bertemu orang arab, mengingatkan saya pada kebodohan
dan kekasaran saja..."
" Lalu bagaimana anda bisa sampai ke US ?" tanya saya.
" Waktu itu ada program pertukaran pelajar keperawatan
dan saya termasuk yang dikirim kesini. Setelah program
selesai, saya bertekad untuk tidak kembali. Saya sudah
bulat hidup mati di sini. Tapi saya butuh pegangan
supaya bisa tinggal di sini kan ? Karena itulah lantas
saya kawin dengan orang Bule. Status saya berubah.
Saya sudah citizen di sini sekarang..." ujarnya dengan
nada
bangga." Saya tidak harus pakai hijab. Saya bisa punya
pekerjaan yang baik. Masa depan saya terjamin."
lanjutnya.
" Jadi anda bahagia sekarang ini ya ?" tanya saya,
penasaran mengamati mata lentiknya yang resah.
" Ah jangan begitulah..." ujarnya seraya membuang
pandangan jauh kedepan. Dihelanya nafas panjang.
" Anda tanya soal perkawinan saya kan ? Anda tahu
sendiri, orang di sini pagi kawin, sore bisa cerai
lagi. Atau kalaupun kawin tidak ada jaminan bakalan
setia, maksudku...yah sewaktu-waktu ganti
pasangan...atau punya kencan lain...atau tak perlu
kawinlah...bikin bengkak beban tax saja...ya memang
kadang saya masih ketemu dia..."
" Bukan soal itu," kali ini saya yang memotong.
" maksud saya anda sudah peroleh kebebasan yang anda
inginkan ...apakah anda masih akan terus menghindar
dari bangsa anda ?"
" Memang begitu. Kadang saya ingin datang juga ke
perayaan muslim macam Ied ini, sekadar datanglah,
makan-minum, ketemu menu yang cocok di lidah. Tapi
saya memang nggak nyaman deket-deket orang arab. Nanti
dikatakan orang sini teroris lagi ....saya malu kalau
orang-orang tahu saya ini muslim." jelasnya.
Saya jadi teringat cerita seorang teman dari Mesir
sewaktu baru pindah rumah. Tiba-tiba saja tetangganya
datang memohon, " Please, jangan ledakkan rumah saya."
Astagfirullah. begitu buruknya gambaran tentang orang
Arab atau orang Islam di negeri ini.
"Eh anda belum jawab pertanyaan saya tadi soal hijab."
sister itu mengingatkan.
" Negara kami tidak pernah mewajibkan hijab. Kami
berhijab karena kesadaran. Pada mulanya ini pilihan
yang sangat sulit. Sebagian dari kami telah kehilangan
pekerjaan bahkan kesempatan untuk sekolah karena
berhijab. Sebagian lagi mengalami cacat seumur hidup
akibat penyiksaan karena memakai hijab. Belum lagi
hinaan dan cemoohan. Tapi muslimah di sana tegar
dengan pilihannya. Semakin ditekan, kesadaran berislam
semakin tumbuh subur. Jadi sangat ironi dengan apa
yang terjadi pada diri anda..."
" Hey, bukankah negara anda muslim terbesar...?"
" Memang benar. Sebagian dari kami percaya bahwa
pemerintah sangat toleran dengan kaum non muslim. Demi
toleransi ini, kalau perlu mayoritas mengalah
...begitulah kira-kira, selain banyak lagi masalah
lain yang rumit yang tidak bisa anda bayangkan." entah
mengapa masih saja ada pembelaan dalam jawaban saya.
Seburuk-buruknya negeri kita, rasanya masih saja tak
rela untuk menyebutnya di depan bangsa lain.
" Jadi kalau negaramu tidak mengharuskan, kenapa kamu
mau pakai hijab ? bodoh sekali bukan ?" tanyanya lagi.
" Seperti saya katakan tadi, kami melakukannya karena
kesadaran sebagai muslimah. " jawab saya.
" Apa maksudmu ? saya juga muslimah." sanggahnya.
" Tahukah anda bahwa tanpa diwajibkan oleh negara anda
sekalipun, kewajiban berhijab itu tetap ada ? " saya
balik bertanya.
" Anda membingungkan." jawabnya.
" Lihatlah ini." jawab saya sembaring menyodorkan
qur'an saku padanya. Saya bukakan ayat tentang hijab
di surat al Ahzab.
" Maksudmu kewajiban itu adalah perintah Tuhan ..?"
tanyanya.
" Tidakkah anda tahu ? atau pernah membacanya ?"
" Mmm, no." jawabnya ragu. Saya jadi berpikir
jangan-jangan sister ini bahkan tidak punya qur'an di
rumahnya.
" Anda boleh menyimpannya." lanjut saya. Ia nampak
ragu. " Maaf qur'an ini memang sudah lusuh. Maklumlah
saya memilikinya sejak lebih dari 13 tahun lalu waktu
masuk universitas. Setidaknya simpanlah, sampai anda
punya yang baru..." saya berusaha meyakinkannya.
" astaga..selama itu anda menyimpannya ?" tukasnya.
Saya tersenyum. " Yah dia teman saya saat sendirian.
Hanya saja saya agak kesulitan menghafalnya, mungkin
karena tidak mengerti bahasanya. Karenanya saya selalu
membawanya untuk membaca dan mengingat perintah Tuhan.

Anda beruntung lahir di negara yang berbahasa al
Qur'an." ujar saya. " Anda tahu, Kebebasan bagi saya
adalah terbebasnya dari segala bentuk penghambaan
kecuali kepada Allah. Itu sebabnya bagi saya berhijab
adalah salah satu bentuk kebebasan, bukannya beban
seperti yang anda rasakan. "
Dia diam saja. Saat itu hujan mulai turun
rintik-rintik. Si sulung dan si nomor dua datang
sambil berlari-lari kecil.
" Is it ashr time ?" tanya si sulung. Saya jawab insya
Allah sebentar lagi.
" Ok," jawab si sulung. " Let's wudu" ajaknya kepada
adiknya. Saya ikuti mereka dengan pandangan sayang.
Walau kadang bandel, syukurlah kalau soal shalat
mereka sangat cinta.
" Mereka anakmu juga?" tanya sister itu lagi.
" Ya" jawabku.
" Berapa umurnya ?"
" Yang besar hampir 6 tahun, adiknya 4, dan si kecil
ini dua bulan lagi tepat 2 tahun." jawab saya.
Sister itu terdiam.
" Kalau kamu jadi saya, apakah kamu akan stay di
negara arab ?" tanyanya tiba-tiba.
" Di manapun kita harus berjuang untuk kebebasan yang
sesungguhnya. Berjuang untuk menegakkan nilai-nilai
Tuhan. Meski itu di negara Arab. Bila itu yang anda
perjuangkan, dimana pun insya Allah saya mendukung
anda" jawab saya.
" Kalaupun tinggal disini, bila hanya jadi budak
nafsu,tidak akan memberi kebahagiaan. Anda harus
berjuang untuk kebebasan yang sebenarnya..."
Sore makin terasa dingin. Waktu saya ajak ke dalam
masjid untuk shalat ashar, dia menggeleng.
" Saya harus pulang." tuturnya. Dia melangkah
perlahan, kali ini tidak tergesa seperti tadi. Saya
berdoa mudah-mudahan saja ia masih ingat cara shalat.
Di dalam masjid saya berjumpa sister Khadijah dari
Palestina. Entah mengapa tiba-tiba ia berkata,
"Sesungguhnya tugas terberat kami adalah
....mengislamkan orang-orang Arab sendiri,".
Berceritalah ia tentang sebagian bangsanya yang malu
mengaku dirinya muslim. Apa saja dilakukan asal bisa
terbebas dari atribut keislaman yang identik dengan
terorisme, keterbelakangan dan belenggu kebebasan.
Teringat saya dengan kondisi di negara kita yang
sebenarnya tidak jauh berbeda. Jalan ini masih amat
panjang terbentang, mendaki lagi sukar. Kian lama kian
terasa seakan menggenggam bara.
Saya dan anak-anak pulang ketika gerimis makin
membasah. Dua jagoan kami berceloteh tentang karnaval,
sementara pikiran saya masih di pertemuan tadi.
Wa Islama....wa islama..., wahai Islam...wahai Islam,
begitulah bisikan syair yang terngiang di telinga
saya. Bagaimana kita bisa tegak penuh harga diri jika
umat Islam sendiri malu dengan agamanya ?
Bagaimana kita dapat menjadi penebar rahmat kalau kita
sendiri jauh dari firman sang Pemberi Rahmat?
Ah..saya jadi ingin merajut malam ini. Tidak, bukan
merajut rumah laba-laba yang rapuh tapi merajut
permadani yang kuat yang bakalan menerbangkan anak
cucu kami ke alam kebebasan,....bebas mencintai
tuhannya.

Wassalam,
Ema Kaysi
maryadie] Fwd: [Imsa-Sisters] Pada sebuah karnaval
(dari arsip lagi)

Rabu, 25 November 2009

KEBENARAN

kebenaran dambaan setiap insan

Meskipun bagi penipu mendambakan kebenaran

Kebenaran adalah nisbi

kebenaran sangat relatif, kecuali kebenaran tuuhan...

Tak boleh diingkarai oleh setiap insan yang beriman

penipuan adalah palsu kepalsuan dilarang agama

Demikian tita Ar Rosul SAW


Oh.....tuhan mengapa orang - orang menolak kebenaran..

semoga,, petunjuk,, hidayahMu menerangi batin mereka


samping facebook branda
00.38 rabu malam 261109

Selasa, 24 November 2009

2012

FILM 2012 yang digarap oleh sutradara Jerman Roland Emmerich itu sekarang menjadi kegemparan di sejumlah kota di Indonesia. Ribuan orang berduyun-duyun ke gedung bioskop untuk menyaksikannya. Pertama kali pergi bersama isteri ke gedung bioskop Cineplex 21 di Setiabudi Building, saya tidak mendapatkan tiket. Semua tiket ludes, bahkan hingga pertunjukan paling akhir selepas tengah malam. Kebetulan saat itu adalah malam Minggu.



Seminggu kemudian, saya datang kembali, tetap bersama isteri, untuk menonton film itu. Kali ini lumayan beruntung, karena akhirnya kami mendapatkan tiket. Tetapi, kami harus sedikit memendam rasa kecewa, karena mendapatkan tempat duduk persis satu baris sebelum deretan kursi yang paling depan, hanya beberapa meter saja dari layar. Selama film itu diputar, saya harus menonton film itu dengan sedikit mendongak. Usai menonton, leher saya terasa pegal-pegal.



Kenapa film ini mendadak menjadi kegemparan? Pertama, karena judulnya sendiri, 2012. Konon, itulah tahun yang diramalkan sebagai akhir dunia atau kiamat. Publik tentu penasaran, seperti apakah dunia kalau kiamat nanti datang. Kedua, ada komentar dari salah satu petinggi MUI, yaitu H. Amidhan, bahwa film ini mengandung propaganda ‘agama’ tertentu. Maksudnya mungkin agama Kristen (saya tidak tahu, dari sudut mana film ini mengandung unsur propaganda Kristen; Roland Emmerich jelas seorang agnostik, dan tidak peduli dengan soal kekristenan).



Bahkan ada rumor bahwa film ini akan dilarang beredar, karena dianggap tidak ‘Islami’. Khawatir film ini tidak lagi beredar di pasaran, publik tak sabar untuk segera menontonnya. Sebuah media bahkan memberitakan bahwa di Bali, sejumlah penonton rela membeli tiket dengan harga dua kali lipat dari seorang calo.



Suatu kejadian yang menarik saya alami ketika saya menonton film ini Sabtu kemaren, 21/11/09, di teater Hollywood Kartika Chandra. Saya menyaksikan ibu-ibu berjilbab yang ikut antri menonton film ini. Saya mempunyai kesan, mereka ini tampaknya bukanlah ibu-ibu yang masuk dalam kategori “movie goers” atau penggemar film, tetapi ibu-ibu majlis ta’lim yang mungkin baru seumur-umur menonton film. Mungkin karena mendapat kabar ‘burung’ bahwa film ini berkenaan tentang hari kiamat, mereka tergerak untuk menonton. Mungkin juga karena film ini dipersoalkan oleh seorang petinggi MUI, sehingga mereka jadi penasaran untuk melihatnya langsung.



Ala kulli hal, komentar “miring” H. Amidhan dari MUI itu justru menjadi “iklan gratis” bagi film tersebut. Mestinya, produser film 2012 harus memberikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Bapak Amidhan karena telah menjadi “juru iklan gratis” bagi film itu.



Apakah benar ini adalah film tentang hari kiamat? Jawaban saya dengan tegas: Tidak. Ini bukanlah film tentang “doomsday,” atau yaum al-qiyamah, dalam istilah Islamnya. Ini adalah film tentang bencana alam, natural disaster, dalam skala yang kolosal. Kalau mau pakai idiomnya Bung Karno, ini adalah tentang embahnya bencana alam.



Selama ini, sutradara Roland Emmerich memang dikenal sebagai spesialis di bidang film-film bencana alam. Salah satu filmnya yang sering saya tonton dan tak bosan-bosan adalah “Independence Day”. Fantasi Emmerich dalam film ini sungguh memukau: tentang serangan makhluk “asing” dari luar angkasa yang hendak menjajah bumi dan menghancurkan peradaban manusia. Digambarkan dalam film itu sebuah piring raksasa yang menggantung di atas sejumlah kota besar di seluruh dunia.



Film Emmerich yang lain dan sangat laris adalah “The Day After Tomorrow”, tentang “pendinginan global” (bukan pemanasan global) di masa yang akan datang dan kembalinya Zaman Es (Ice Age).



Sebagaimana film-film Emmerich yang lain, film 2012 mempunyai ciri khas yang sama: yaitu fantasi yang liar tentang adanya bencana alam yang maha hebat, dan usaha manusia untuk “survive” atau selamat dari bencana itu. Film 2012 berbicara tentang dislokasi atau pergeseran lempeng bumi secara global yang menimbulkan tanah longsor dan gempa bumi di sekujur bumi. Bayangkan, gempa bumi di seluruh bumi! Gempa itu berkekuatan rata-rata di atas 9 dalam skala richter. Karena dislokasi itu, hampir sebagian besar kota-kota besar dunia ambles. Akibatnya, terjadilah tsunami global berupa ombak laut yang tingginya kira-kira 1500 meter. Tak ada satupun permukaan bumi yang selamat dari hempasan tsunami ini, kecuali pucuk tertinggi Gunung Himalaya.



Apakah manusia musnah karena terjangan tsunami raksasa ini? Di sinilah seluruh kisah film 2012 berpusat. Film ini, sebagaimana film-film Emmerich yang lain, berkisah tentang “ikhtiar” manusia untuk selamat dari hempasan tsunami gigantik ini. Manusia tidaklah obyek pasif berhadapan dengan alam yang sedang “mengamuk”. Manusia memiliki kemampuan untuk “mengatasi” musibah alam dengan skala global itu.



Dalam film itu, digambarkan bahwa datangnya bencana geologi global tersebut sebenarnya sudah diprediksi oleh sejumlah ilmuwan. Suatu proyek rahasia dengan skala global yang melibatkan sebagian besar pemerintahan negara-negara besar dunia diam-diam dimulai. Yaitu membangun enam atau tujuh kapal besar yang mampu bertahan menghadapi hempasan tsunami raksasa. Kapal itu dibangun di sebuah tempat yang rahasia sekali di daratan Cina. Tentu saja, keseluruhan proyek ini adalah rahasia kelas wahid. Prediksi tentang bencana global yang mengerikan itu juga sama sekali tak diberitahukan ke publik, sampai detik-detik terakhir, khawatir akan menimbulkan kekacauan global.



Di lain pihak, film ini juga menggambarkan tentang perjuangan hidup-mati seorang penulis dari Los Angeles, Jackson Curtis (diperankan oleh John Cusack), pengarang novel yang sama sekali tak laku (hanya terbit 500 eksemplar) berjudul “Farewel Atlantis” yang juga berbicara tentang semacam bencana hebat. Perjuangan Curtis untuk selamat dari gempa dahsyat dan longsor bumi yang menghempas Los Angeles digambarkan dengan dramatis dalam film ini.



Salah satu daya tarik film ini adalah penggambaran tentang usaha untuk selamat dari situasi maut dalam hitungan detik. Siapapun tahu inilah “bumbu” dalam film-film laga Hollywood yang menjadikannya laris-manis seperti kacang goreng. Salah satu adegan dalam film ini yang membuat penonton menghela nafas adalah saat kapal induk raksasa John F. Kennedy menerjang Gedung Putih bersamaan dengan tsunami raksasa yang menghempas kota itu. Walaupun kita semua tahu ini adalah efek yang diciptakan melalui manipulasi komputer, tetapi adegan itu sendiri tetaplah memukau.



Ujung film itu jelas: Curtis, mantan isterinya beserta kedua anaknya yang berjuang hidup mati untuk mencapai daratan Cina untuk naik kapal induk akhirnya berhasil. Peradaban manusia tidak musnah di tengah banjir global yang melanda seluruh permukaan bumi. Kapal induk itu membawa manusia dan sejumlah binatang untuk melanjutkan kehidupan baru paska-banjir. Misi kapal itu memang jelas: menyelamatkan spesies manusia dan peradabannya dari kepunahan.



Barangsiapa pernah membaca kisah tentang Nabi Nuh, sebetulnya akan segara tahu bahwa kerangka film ini memang diambil dari kisah itu. Mungkin kebetulan, atau mungkin juga disengaja oleh Emmerich atau penulis skenario, bahwa anak laki-laki Jackson Curtis, salah satu tokoh utama dalam film itu, bernama Noah (versi Inggris dari nama Nuh dalam bahasa Arab).



DALAM sebuah wawancara di TV, H. Amidhan dari MUI berkata bahwa film itu tidak sesuai dengan semangat Islam. Alasannya, antara lain, bahwa hari kiamat termasuk barang gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Tuhan. Oleh karena itu visualisasi hari kiamat tidak diperbolehkan.



Saya sebetulnya tidak ingin menganggap serius pernyataan “ngawur” tokoh MUI ini. Tetapi kalau sekedar mau “uji argumen”, maka saya bisa menjawabnya sebagai berikut. Pertama, ini jelas bukanlah film tentang hari kiamat. Ini adalah film tentang bencana alam global yang dahsyat. Bencana ini tidak membuat dunia musnah dan manusia hilang dari pemukaan bumi. Kalau kita merujuk pengertian “hari kiamat” dalam nomenklatur Islam, jelas apa yang disebut kiamat di sana dipahami sebagai momen berakhirnya dunia tempat manusia hidup. Kehidupan dunia, setelah itu, berakhir, digantikan dengan kehidupan lain yang sering disebut “akhirat”, atau “hereafter” dalam istilah Inggris.



Dalam film ini, dunia digambarkan tidak berakhir. Dunia masih terus ada setelah bencana besar itu, dan manusia selamat dari hempasan tsunami global untuk akhirnya menemukan kembali “dunia dan kehidupan baru” di Afrika, tepatnya di Semenanjung Harapan (Cape of Good Hope di Afrika Selatan). Jadi keliru sama sekali manakala H. Amidhan dari MUI menganggap bahwa film ini adalah tentang hari kiamat.



Kedua, apakah betul visualisasi tentang hal yang gaib tidak diperbolehkan dalam Islam? Dari mana hukum itu dipeorleh oleh H. Amidhan? Dalam Quran sendiri kita jumpai banyak visualisasi yang memikat tentang hari kiamat. Salah satu penggambaran hari kiamat yang agak-agak mendekati film Emmerich ini ada dalam Surah al-Takwir (surah no. 81). Ayat ketiga dalam Surah itu berbunyi “wa idza ‘l-jibalu suyyirat”, ketika gunung berjalan. Dalam film Emmerich itu, digambarkan suatu proses dislokasi geologis yang dahsyat sehingga lanskap bumi berubah total. Gunung-gunung pindah lokasi, dan peta dunia seperti disusun kembali.



Sekali lagi, tak ada larangan apapun dalam Islam untuk memvisualisasi semua hal yang gaib, terutama hari kiamat.



Ketiga, film ini, dalam pandangan saya, justru sesuai dengan semangat Islam. Film ini “mengajarkan” (tentu ini istilah yang terlalu “dramatis” untuk sebuah film yang tidak diniatkan sebagai sebuah “ajaran agama”) tentang pentingnya ikhtiar dan optimisme walaupun manusia sedang dilanda bencana dahsyat yang seolah-olah di luar kekuasaan mereka. Manusia bukanlah makhluk yang tunduk saja pada “nasib”, tetapi mampu berikhitiar. Dalam keadaan yang sesulit apapun, manusia tetap harus berusaha dan memiliki harapan. Bukankah ini adalah “nilai” yang justru sesuai dengan semangat “Islam”, Bapak Amidhan?



Sebagai penutup, film ini sebetulnya tidak menarik dari segi cerita. Kalau anda mengharapkan plot cerita yang penuh nuansa dan menarik dari film ini, maka siap-siaplah untuk kecewa. Film ini menarik bukan dari segi plot ceritanya, tetapi dari sudut efek-efek visual yang sangat mengagumkan. Fantasi tentang bencana alam yang tak pernah terpikirkan oleh kita dan efek-efek visual yang dengan cerdik dimanipulasi oleh Emmerich untuk menggambarkannya adalah salah satu daya tarik film ini.



Ala kulli hal, saya terhibur sekali dengan film ini.[]

sumber http://gusulil.wordpress.com/2009/11/23/catatan-tentang-film-2012/
In February of 2006, Sara and I traveled through Italy leading up to attending the Winter Olympics in Torino. As we often do when we travel, we posted a note on the Wooster website saying that we'd love to meet up with local artists in Milan, Florence, and Rome.

On February 9th, when we arrived in Milan, we posted a note on the site letting people know that we'd all be meeting at the statue in the Piazza Duomo. We had no idea who - and how many - people would show up.

It turned out to be an amazing evening. Amongst the twenty-five or so people who joined us was Blu. He had traveled by train from his hometown in Bologna earlier that morning. It was the first time we had ever met Blu, and Sara and I were delighted that he had come all the way just to see us.

At the end of the night, Blu handed us a small wooden box. He told us that inside was one of his sketchbooks. He said that each week he did a new sketchbook and that he wanted us to have the one he had just completed. Sara and I were blown away by his thoughtfulness and ever since it's been one of our favorite gifts. Not just for the wonderful drawings inside but for the intimacy of the gift itself.

The other week Blu came over for dinner and we showed a few friends the sketchbook. It occurred to us that because it's a book in a box and not something to hang on a wall, very few people will actually get to see it. So this morning Sara and I did a short video "tour" of the book. We hope you like it as much as we do....

Minggu, 22 November 2009

jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam
neraka, dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
campakkanlah aku keluar dari dalam surga, tetapi jika aku menyembah-Mu
demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan
wajah-Mu yang abadi kepadaku. Sumber: Do'a Rabiah Al-Adawiyah
Tidaklah termasuk yg terbaik diantara kalian yg meninggalkn dunia untuk kepentingan akhirat, dan tdk pula yg meninggalkn akhirat untuk kepentingan dunia.....tetapi hnyalah yg mengambil bagian dari keduanya. (Huzaifah bin husail bin yabir Al Yamani)