Selasa, 22 Desember 2009

teknik membaca cepat

Untuk menjadi profesional di bidang apapun, Anda dituntut aktif membaca. Berapa banyak bacaan yang harus Anda baca setiap hari? Surat kabar, buku, surat-surat, memo, proposal, laporan, draft presentasi, diktat-diktat pelatihan sampai e-mail. Namun, keterbatasan waktu, tidak memungkinkan Anda melahap semua bacaan dalam waktu singkat. Maka membaca cepat, pada akhirnya membaca cepat menjadi kebutuhan mutlak. Pada dasarnya untuk membaca cepat dibutuhkan 2 hal penting yaitu 1) Kemampuan membaca lebih cepat dalam waktu singkat dan 2) Kemampuan men-scan isi tulisan. Berikut ini diuraikan Tips menguasai teknik membaca cepat:
1. Melatih Kecepatan. Berapa kata per menit yang bisa Anda baca? 100, 200? Hm, masih kurang banyak. Para pakar sepakat, Anda baru bisa dibilang bisa membaca cepat bila kemapuan membaca Anda berkisar 250-300 kata per menit. Ada teknik yang bisa diterapkan. Salah satunya dengan berusaha membaca beberapa blok katasekaligus. Apakah bisa? Bisa. Karena berdasarkan penelitian, ternyata otak Anda membaca kata per kata, bukan huruf per huruf. Jadi aturan huruf pada kata tidak penting, cukup huruf pertama dan terakhir yang harus berada pada tempatnya. Meski hurufnya tidak beraturan, tapi bila huruf pertama dan terakhir benar, otak Anda bisa membacanya. Contoh seperti ini, kata ‘bgaus’meski hurufnya tidak berurutan, otak langsung bisa membacanya dengan benar segabai kata, ‘bagus’. Luar biasa bukan? Hal ini menurut salah satu pendapat ada kaitannya dengan teori associative memory, otak banyak bekerja dengan mengasosiasikan suatu informasi dengan informasi lain yang sudah lebih dahulu tersimpan dalam memori. Itulah emgnapa Anda tidak kesulitan membaca SMS yang pelit dengan huruf. Untuk bisa membaca cepat, Anda perlu berlati. Caranya mudah. Saat latihan, cobalha membaca seepat-cepatnya, dan berilah target setinggi-tingginya. Misalnya dalam satu menit, Anda menargetkan harus bisa menyelesaikan membaca satu artikel surat kabar. Bila ada paragraf atau bagian yang penting, turunkan kecepatan membaca agar Anda bisa memahami maknanya.
2. Kemampuan Scanning. Membaca melibatkan partisipasi aktif, sehingga seluruh emosi, hasrat dan minta juga harus terlibat dalam proses membaca. Namun keterbatasan waktu, membuat Anda sebaiknya selektif dan efektif dalam membaca, sehingga dengan tenggang yang sama, Anda bisa mengambil inti dari lebaih banyak bacaan. Kecuali untuk buku fiksi atau sastra yang memang ingin Anda nikmati jalinan cerita, emosi dan rangkaian kata-katanya. Pada dasarnya teknik men-scan ini hanya meminta Anda untu melihat pokok dari isi suatu tulisan. Ada teknik yang bisa diterapkan dalam membaca bacaan, dari mulai artikel surat kabar, buku dan kertas kerja, seperti diuraikan beriktu ini:
A) Membaca Artikel Di Surat Kabar/Majalah. Umumnya tulisan di surat kabar dan majalah berupa artikel. Satu surat kabar saja sudah terdiri atas banyak artikel, jadi tidak mungkin Anda melahap semuanya. Cara menyiasatinya, perhatikan konstruksi tulisan tersebut. Umumnya artikel terdiri atas judul, pendahuluan, isi dan penutup. Pertama kali, tentu membaca judulnya. Kemudian, arahkan mata Anda ke pendahuluan. Bagian pendahuluan mencerminkan isi dari keseluruhan tulisan. Pendahuluan sangat penting dibaca karena dari sini Anda tahu ke mana arah artikel ini. Bila pendahuluan tidak terlalu menarik minat karena mungkin Anda tidak memerlukan informasi tersebut, segera alihkan pandangan mencari topik yang lain. Namun, bila informasi tersebut penting dan sesuai dengan kebutuhan, bacalah isinya secara tuntas sampai pada kesimpulan.
B. Membaca Buku. Buku mempunyai isi jauh lebih banyak dari artikel. Konstruksi buku terdiri dari cover, daftar isi, isi dan back cover. Seperti artikel, cover juga penting untuk dibaca. Karena dari sini Anda bisa menentukan, apakah buku tersebut menarik untuk dibaca atau sesuai dengan kebutuhan atau tidak. Bila jawabannya tidak, segera letakkan buku tersebut, dan carilah buku lain. Tapi, bila ya, Anda bisa membaca cover belakangnya. Dari sini, Anda bisa tahu secara ringkas isi buku tersebut. Dan selanjutnya yang perlu dibaca adalah: 1) Biografi Penulis. Untuk mengetahui background pendidikan, pengalaman dan kegiatan penulis, sehingga memudahkan Anda mengatur alur pemikiran yang dituangkan dalam buku tersebut. 2) Bagian Awal Buku, yang terdiri dari kata pengantar dan prakata (prolognya). Kenanyakan orang melewatkannya. Padahal , bagian ini perlu disimak. Karena disinilah penulis merangkum intisari seluruh gagasan tentang tema buku tersebut. 3) Daftar Isi, yang menjadi kerangka buku. Bacalah daftar isi dengan teliti untuk melhat apakah topik-topiknya sesuai dengan yang dicari. Saat melihat daftar isi, Anda bisa menentukan apakah hanya membaca sebagian atau keseluruhan buku. Kalau informasi yang dibutuhkan tidak banyak, lihat saja yang perlu dibaca, dan abaikan selebihnya. 4) Indeks, lihatkah apakah ada kata-kata kunci yang menarik bagi Anda. Begitu mulai membaca, hindari membaca kata-per-katadan kalimat per kalimat. Cobalah tangkap sekelompok kata dengan mata setiap kali menggerakannya. Apalagi untuk buku berbahasa asing. Anda tidak perlu menerjamahkan kata demi kata karena akan menghambat penyerapan informasi ke dalam otak. 5) Konsentrasikan Pada Kalimat Pertama dan Terakhir Dari Sebuah Paragraf. Atau lihatlah keseluruhan badan paragraf, kemudian tangkap pesan intinya. Anda bisa bebas melompati materi yang sudah diketahui atau tidak diminati. Pada bagian yang menurut Anda penting, Anda bisa lebih cermat membaca dan mencerna lebih dalam maknanya. 6) Siapkan stabilo atau alat tulis untuk menandai informasi atau apa saja yang ingin dilihat. Pahami jalan pikiran penulis. Semakin cepat Anda mengetahui topik, tujuan pokok masalah dari materi yang dibaca, makin baik pemahaman dan ingatan Anda akan hal itu. Kalau perlu buatlah ringkasan sambil membaca. Untuk mempermudah menggunakan buku tersebut sebagai referensi, catat isi buku tersebut dalam buku catatan yang dapat disimpan dan dilihat setiap saat.
C. Mengelola Kertas Kerja. Kertas kerja sama pentingnya dengan buku dan artikel lain. Bila tidak bisa mengelola secara cermat, Anda akan dihujani oleh kertas kerja yang menumpuk di meja. Yang menjadi bagian kertas kerja termasuk surat, memo, brosur, fax dan email. Prinsip dasarnya sama seperti terhadap bacaan lain, screening. Idealnya, memang ada staf yang menyaring dengan cepat kertas kerja apa yang boleh masuk dan mana yang terlarang untuk Anda. Bila tidak ada, Anda bisa memilahnya dengan cepat. Baca saja pendahuluan dan paragraf terakhir. Sisihkan waktu paling banyak sekitar satu jam untu membaca kertas kerja.
Seperti keterampilan lain, kemahiran membaca membutuhkan jam terbang. Kuncinya hanya satu : berlatih, ingat Practice makes Perfect! Selamat membaca.
Sumber: http://tipsanda.com/2009/10/18/tips-menguasai-teknik-membaca-cepat/

Rabu, 02 Desember 2009

A.Rasional

Kenyataan yang tidak terelakkan adalah krisis intelektual mahasiswa kian membesar. Disana sini tidak lagi terdengar wacana-wacana ilmiah yang mencerdaskan, mereka seolah-olah telah menjadi manusia kering dalam negeri yang terpasung, kering nalar, gugup bahkan kehilangan identitas. Pecahnya kemarau makna yang dirasakan beberapa tahun kebelakangan ini belum juga di hujani oleh gagasan segar yang menghentakkan kebekuan. Mahasiswa seakan-akan tealah kehilangan panduan dalm berkelompok, berorganisasi, berbangsa bahkan beragama. Mereka hanya berada dalam pusaran-pusaran rutinitas yang tidak menentu yang belum memberikan kontribusi yang berarti.

Realitanya telah sama-sama kita saksikan bahwa dinginnya gerakan mahasiswa dalam merespon kemodernan dan masalah-masalah sosial yang muncul baik Pada tingkat local maupun nasional, kefakuman ini terasa mengurangi identitas, padahal dalam kehidupan berdemokrasi mereka juga ikut andil dalam upaya melakukan control social. Setidaknya berkewajiban menjalankan misi transpormatif dan misi korektif. Misi transpormatif ialah suatu upaya menuangkan gagasan-gagasan baru buat mencerdaskan kehidupan masyarakat. Sedangkan misi korektif adalah memperhatikan serta mengevaluasi terhadap segala kebijakan pemerintah yang kurang menyentuh dalm kehidupan masyarakat. kini riaknya seakan-akan telah hilang, kalaupun ada tidak lagi bernuansa seorang mahasiswa akan tetapi lebih cendrung agresiv.

Di samping itu rentannya terjadi perang ideology yang berdampak pada nilai-nilai integritas kemahasiswaan itu sendiri, sehingga susahnya melakukan gerakan secara bersama untuk kemaslahatan bangsa dan agama, mereka hanya berkutak di ruang-ruang simbolik serta mengabaikan ruang subtansi yang berifat lebih prinsif.

Atas dasar ini, maka perlunya satu wadah yang di jadikan ajang curahat, alat penyadaran, dalam hidup di suasana kebinnekaan (keberagaman). Sehingga akan munculnya respon positif dalam usaha menciptakan cultural intelektual di wilayah kampus yang masih gersang ini serta kesadaran sosial, untuk menuju kampus madani yang demokratis.



B.Tema
“ Membangun Kultural Intelektual Serta Menciptakan Integritas Sosial Kemahasiswaan”


C. Tujuan

Ada beberapa butir tujuan dari dari acra ini, antara lain adalah:

1. Agar terciptanya kesadaran ber ilmu dan bersosial
2. Terciptanya semangat ukhwah Islamiah dalam perbedaan, baik daerah, organisasi maupun perguruan tinggi.
3. Sebagai wadah cuhat atas segala permasalahan buat kepentingan bersama
4. Melahirkan rekomendasi-rekomendasi untuk gerakan mahasiswa baik local maupun nasional untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
5. Memotivasi semangat dan kesadaran ilmiah bagi kalangan mahasiswa.


D. Tempat dan waktu
Acara ini akan diadakan dalam satu bulan dua kali pertemuan, yaitu pada minggu pertama dan ketiga, yang insyaallah akan di mulai pada:

Hari/tanggal : Senin, 25 mei 2009
Waktu : 14.00 WIB- Selesai
Tempat : Gedung Serbaguna IAIN

E. Nara Sumber
Nara sumber lebih bersifat kondisional, yang terdiri dari:

1. Kalangan mahasiswa/ aktivis mahasiswa
2. Akademisi
3. LSM
4. Pemerintahan
F. Peserta
Peserta juga bersifat kondisional yang terdiri dari:

1. Pengurus HMJ/HMP, SMF, UKM-UKM serta DEMA dalam intra kampus
2. BEM Kampus SE-Kota Padang
3. Mahasiswa secara umum

G. Agenda Acara
Sebagai tahap awal acara ini kami agendakan sebanyak empat kali pertemuan dalam waktu dua bulan. Untuk lebih jelasnya sebagaimana terlampir.


H. Organisasi Kerja

( Terlampir)

J. anggaran dana
(Terlampir)

K. Penutup
Demikianlah project proposal ini di buat, sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan acara pentas dialog mshsiswa. Dengan harapan dapat di jadikan bahan pertimbangan bagi Bapak/ Ibu untuk menyetujuai dan memberikan bantuan materi maupun morilnya. Atas segala partisipasi Bapak/Ibu kmi ucapkan terimakasih.
Billahittaufiq,
Wassalamualaikum, Wr,Wb
Padang, 23 Jumadil Awal 1430 H
18 Mei 2009 M

Pelaksana
Pentas Dialog Mahasiswa
Dewan Mahasiswa (DEMA)
IAIN Imam Bonjol Padang





Yisri
Ketua



Zainal Fadhli
Sekretaris
Mengetahui,
Pembantu Rektor III



Prof. Dr. H. Salmadanis, M.Ag
Nip 150 234 603 Pengurus Dewan Mahasiswa



Aldomi Putra
Ketua Umum

Agenda Acara
Pentas Dialog Mahasiswa
Dewan Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang

No Hari / Tgl Tema Narasumber
1 Senin, 25 mei 2009 Mahasiswa: atara Ideal dan Realita Ma’rufin ihsan
2 Rabu, 3 juni 2009 Mahasiswa dan Kampus dalam pandangan Ketua SMF Ketua SMF Se-Lingkungan IAIN
3 Rabu, 17 juni 2009 Demokrasi Berbasis Kampus -Abrar, M.Ag
-Muhammad Natsir
4
Rabu,24 Juni 2009 Kampus antara Mimpi dan Realita Zainimal, M.Ag











































Nomor : 04/A/P-PDM-DM/V/2009
Lamp : Satu lembar
Hal : Mohon Memakai Gedung
Kepada Yang Terhormat;
Bapak Rektor IAIN Imam Bonjol Padang
Di
Tempat

Assalamualaikum, Wr, Wb
Teriring salam dan doa kami sampaikan semoga kepada Bapak beserta setaf selalu dalam lindungan Allah SWT. dan lancar dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, Amin….

Berhubung akan di adakannya acara Pentas dialog Mahasiswa oleh bidang Penelitian dan Perencanaan Kebijakan Dewan Mahasiwa IAIN Imam Bonjol Padang, yang rencananya acara ini lebih bersifat kontinyu yaitu dalam satu bulan sebanyak dua kali pertemuan, selama dua bulan berturut. Untuk lebih jelas agendanya sebagaimana terlampir. dengan fasilitas enam puluh buah kursi dan dua buah meja, acara ini Insyaallah akan mulai dilaksanakan pada:\

Hari/ Tanggal : Senin, 25 Mei 2009
Waktu :14.00 Wib- Selesai

Maka, Kami mohon kepada Bapak Rektor IAIN Imam Bonjol Padang agar dapat mengizinkan pemakaian gedung serbaguna untuk melaksanakan acara yang kami maksud.

Demikianlah surat permohonan ini kami buat, atas perhatian dari bapak kami ucapkan terimakasih.
Billahitaufiq walhidayah
Wassalamualaikum,Wr,Wb


Padang,18 Mei 2009 M
23 Jumadil Ula 1430 H

Pelaksana Pentas Dialog Mahasiswa
Dewan Mahasiswa IAIN Imam Bonjol
Padang






Yisri Zainal Fadhli
Ketua Sekretaris


Turut Memohon





Aldomi Purtra
Ketua Umum



Nomor : 05/B/P-PDM-DEMA/V/2009
Lamp : -
Hal : Mohon bantuan spanduk
Kepada Yang Terhormat;
Pimpinan Padang Ekspres
Di
Tempat

Assalamualaikum, Wr, Wb
Teriring salam dan doa kami sampaikan semoga kepada Bapak beserta setaf selalu dalam lindungan Allah SWT. dan lancar dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, Amin….

Berhubung akan di adakannya acara Pentas dialog Mahasiswa, oleh bidang Penelitian dan Perencanaan Kebijakan Dewan Mahasiwa IAIN Imam Bonjol Padang, yang rencananya acara ini lebih bersifat kontinyu yaitu dalam satu bulan sebanyak dua kali pertemuan. Yang Insyaallah akan mulai di laksanakan pada;

Hari/ Tanggal : Senin, 25 Mei 2009
Waktu : 14.00 Wib- Selesai
Tempat : Gedung Serba Guna IAIN “IB” Padang

Maka, maka dengan ini kami dari pelaksana pentas dialog mahasiswa memohon bantuan spanduk kepada padek grup, demi tersosialisasinya acara tersebut, adapun redaksi bahasanya sebagaimana terlampir.

Demikianlah surat permohonan ini kami buat, atas perhatian dari bapak kami ucapkan terimakasih.
Billahitaufiq walhidayah
Wassalamualaikum,Wr,Wb


Padang,18 Mei 2009 M
23 Jumadil Ula 1430 H

Pelaksana Pentas Dialog Mahasiswa
Dewan Mahasiswa IAIN Imam Bonjol
Padang





Yisri Zainal Fadhli
Ketua Sekretaris


Turut Memohon





Aldomi Purtra
Ketua Umum



Lampiran I




Acara Pentas Dialog Mahasiswa
Dewan Mahasiswa “IB” Padang
Pelaksana, oleh Majlis Studi Islam dan Kemahasiswaan ( MSIK)
akan Mulai hadir di Tengah kita:
Senin,25 Mei 2009
Dengan tema: Membangun Kultural Intelektual serta Menciptakan Integritas Sosial Kemahasiswaan














































Rincian Dana
Pentas Dialog Mahasiswa
Dewan Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang




A.konsumsi
1.Air Minium
2.Snack
4 x18000
60x 2000
Rp 72.000,-
Rp120.000,-
B.Administrasi
1.Stempel
2.Spidol
3.Kertas Hvs
4.Busa Mading
5.Piagam Pemateri
6.Spanduk
7.Tinta printer
8.Bantal + tinta stempel
9. Amplop
10. Buku agenda


3x5000

7x20.000
4x4000

Rp 30.000,-
Rp 15.000,-
Rp 30.000,-
Rp140.000,-
Rp 16.000,-
Rp180.000,-
Rp. 20.000,-
Rp. 30.000,-
Rp. 25.000,-
Rp.15.000,-
C,honor Pemateri 4x60.000,- Rp240.000,-
Jumlah Rp.9.23.000,-

Selasa, 01 Desember 2009

Husein haikal

TELAAH PEMIKIRAN M. HUSSEIN HAIKAL

(STUDI KITAB HAYAT MUHAMMAD)

A. PENDAHULUAN

Hegemoni pemikiran orientalis dalam dunia Islam sudah sangat kuat, dimana mereka sekehendak hati mengutak-atik dan memutarbalikkan fakta sehingga dengan sendirinya mampu menimbulkan keraguan dalam diri kaum Muslimin akan ajaran agamanya. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi setelah diketahui bahwa para cendekiawan muslim pun, yang seharusnya mampu menahan dan mengamankan keadaan ini, ternyata malah terpesona dan terpengaruh pemikiran mereka. Generasi intelektual muslim pun mengalami apa yang dinamakan kejumudan serta kekerdilan berpikir. Mereka kemudian menilai Islam dari luar, bukan dari kacamatanya sendiri sebagai orang dalam, orang Islam.

Kemudian di tengah-tengah masa yang suram tersebut, muncullah para pemikir Islam modern, seperti M. Abduh dan Rasyid Ridha yang mendobrak semua itu. Mereka menawarkan pembaharuan, tajdid dan rekonstruksi, dimana mereka menjadikan sikap kritis sebagai dasar dari semua itu. Banyak pemikir setelahnya yang terinspirasi oleh pemikiran mereka ini, termasuk salah satunya M. Hussein Haekal, pengacara dan penulis berbagai karya monumental, sekaligus pemikir terkemuka dari Mesir.

Makalah ini akan mencoba mengaduk-aduk karya Hussein Haekal, terutama pemikirannya di bidang hadis melalui kitab karangannya Hayat Muhammad. Untuk selanjutnya, makalah ini akan berbicara seputar diri Haekal, kitab Hayat Muhammad, dan pemikirannya yang tersirat dalam kitab.

B. SETTING HISTORIS-BIOGRAFIS PENGARANG

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Husain Haekal. Dilahirkan di desa Kafr Ghanam bilangan distrik Sinbillawain di propinsi Daqahlia, delta Nil, Mesir, pada tanggal 20 Agustus 1888.

Setelah selesai belajar mengaji al-Qur’an di madrasah desanya, ia pindah ke Kairo guna memasuki sekolah dasar lalu sekolah menengah sampai tahun 1905. Kemudian meneruskan belajar hukum hingga mencapai lisensi dalam bidang hukum (1909). Selanjutnya ia meneruskan ke Fakultas Hukum di Universite de Paris di Perancis, lalu dilanjutkan pula sampai mencapai tingkat doktoral dalam ekonomi dan politik dan memperoleh Ph. D. pada tahun 1912 dengan disertasi berjudul "La Dette Publique Egyptienne". Di tahun itu juga ia kembali ke Mesir dan bekerja sebagai pengacara di kota Mansura, kemudian di Kairo sampai tahun 1922.

Sejak mudanya Haekal tidak pernah berhenti menulis; dari masalah politik, kritik sastra sampai beberapa biografi, dari Cleopatra sampai Mustafa Kamil di Timur, dari Shakespeare, Shelley, Anatole France, Taine sampai kepada Jean Jacques Rousseau dengan gayanya yang khas dan sudah cukup dikenal. Setelah mencapai lebih setengah abad usianya, perhatiannya dicurahkan kepada masalah-masalah Islam. Bukunya yang berjudul "Hayat Muhammad" (Sejarah Hidup Muhammad) dan “Fi Manzil al-Wahyi" (Di Lembah Wahyu) menjadi sangat terkenal. “Dua buku yang sungguh indah dan baru sekali dalam cara menulis sejarah hidup Muhammad." Studinya itu kemudian berlanjut pada penelitian akan Abu Bakr dan Umar.

Semasa masih mahasiswa hingga menjalankan profesinya sebagai pengacara, ia terus aktif menulis dalam harian Al-Jarida yang dipimpin oleh Ahmad Lutfi as Sayyid, As-Sufur dan Al-Ahram. Umumnya ia memang menulis tentang masalah-masalah sosial dan politik, di samping juga memberikan kuliah dalam bidang ekonomi dan hukum perdata (1917-1922). Tahun itu juga ia terpilih sebagai pemimpin redaksi harian As-Siasah sebagai organ resmi Partai Liberal. Tahun 1926, ia mendirikan mingguan As-Siasa, yang dalam bidang kultural besar sekali pengaruhnya ke seluruh negara-negara Arab. Ia aktif dalam bidang jurnalistik sampai tahun 1938.

Karya-karya Haekal menduduki tempat penting dalam banyak perpustakaan berbahasa Arab. Penulisan novel modern dimulai oleh Haekal. Ia juga menulis serangkaian sejarah Islam dan biografi di samping masalah-masalah politik sebagaimana telah penulis sebutkan sebelumnya. Buku-bukunya dalam sejarah Islam merupakan sumber penting dalam studi keislaman.

Novelnya Zainab, yang mengisahkan kehidupan petani Mesir, mula-mula ditulisnya semasa ia masih mahasiswa di Paris, dan sebagian ditulisnya di London dan di Jenewa, Swis pada hari libur; telah dibuat film dan dalam festival film internasional di Jerman (1952). Die Liebesromanze der Zenab yang ditulisnya sebagai kenangan kepada tanah air dan masyarakat di kampungnya ini, dalam dua kali pertunjukan telah mendapat sambutan yang luar biasa dan telah terpilih pula sebagai film yang paling berhasil, dilukiskan sebagai “Egyptische Welturauffuhrung in Berlin”.

Tahun 1938 ia menjabat Menteri Negara, kemudian Menteri Pendidikan, lalu Menteri Sosial. Sesudah itu menjadi Menteri Pendidikan lagi dalam tahun 1940 dan 1944. Pada permulaan tahun 1945 ia terpilih sebagai ketua Majelis Senat sampai tahun 1950.

Pada tahun 1943, ia terpilih sebagai ketua Partai Liberal Konstitusi (Liberal Constitutional Party), yang dipegangnya sampai tahun 1952.

Berkali-kali mengetuai delegasi yang mewakili negaranya di PBB, konferensi-konferensi internasionalnya, dalam Interparliamentary Union dan secara pribadi terpilih pula sebagai anggota panitia eksekutif lembaga tersebut.

Beberapa buku dan disertasi tentang sejarah hidup Dr. Haekal telah terbit, diantaranya:

1) Beberapa studi tentang Dr. Haekal, oleh beberapa penulis (1958).

2) Mohammed Hussein Haekal, oleh Baber Johansen, sebuah thesis, Universitas Berlin, 1962.

3) Dr. Mohammad Hussein Haekal, oleh Taha Wadi’, thesis, Universitas Kairo (Fakultas Sastra), 1965.

4) Dr. Mohammed Hussein Haekal, oleh Charles Smith, sebuah thesis, Universitas Michigan, Amerika Serikat, 1968.

Dr. Haekal seorang pengarang yang produktif, baik dalam bidang sastra, kemasyarakatan, maupun politik, yang disiarkan selama ia aktif dalam jurnalistik. Banyak juga naskah-naskahnya yang belum disiarkan. Kembali aktif menulis dalam harian-harian Al-Mishri, dan Al-Akhbar sejak 1953 hingga wafatnya.

Pada mulanya Sejarah Hidup Muhammad ini telah menimbulkan reaksi hebat dan kritik tajam di kalangan bangsa Mesir dan dunia Islam umumnya. Tapi semua itu dihadapinya dengan tenang dan di mana perlu dijawabnya dengan penuh tanggung jawab dan rasional sekali. Meninggal pada 8 Desember 1956.[1]

Karya-karyanya

Karya Muhammad Hussein Haekal selama hidupnya adalah sebagai berikut:

a. Bidang Sejarah

Hayat Muhammad (1935), Fi Manzil al-Wahyi (1937), Asy-Shiddiq Abu Bakr (1942), Al Faruq ‘Umar (1944-1945) sebanyak dua jilid, ‘Uthman bin ‘Affan (1964),dan Al-Imbraturiah al-Islamiyah wa al-Amakin al-Muqaddasah fi al-Syarq’ al-Aushat (Commonwealth Islam dan tempat-tempat Suci di Timur Tengah) berupa kumpulan studi (1960).

b. Bidang Sastra

Yaumiyyat Baris (1909), Zainab (1914), Tsaurah al-Adab (1933), Waladi
(1931), Hakadza Khulliqat (1955), Fi Auqat al-Firag (1925), Asyarata Ayyam fi al-Sudan (1927), dan Qishas Mishriyyah (1969).

c. Bidang Politik

Jean Jacques Rousseau (1921-1923) sebanyak dua jilid, Tarajim Mishriyyah wa Gharbiyah (1929), Al-Mishriyyah wa al-Inqilab al-Dusturi (1931), Al-Hukumah al Islamiyah (1935), Asy-Syarq al-Jadid (1963), dan Mudhakkirat
fi al-Siasah al-Mishriyyah (1951-1953) sebanyak dua jilid.

d. Bidang Agama

Al-Iman wa al-Ma’rifah wa al-Falsafah (1965).[2]

C. SEKILAS TENTANG KITAB HAYAT MUHAMMAD

1. Latar Belakang Penulisan

Banyak buku-buku sejarah tentang kehidupan Nabi itu yang telah ditambah-tambahi dengan hal-hal yang tidak dapat diterima akal hanya demi menguatkan bukunya tersebut. Apa yang ditambah-tambahkan itulah yang dijadikan pegangan oleh kalangan Orientalis dan oleh mereka yang mau mendiskreditkan Islam dan Nabi, juga oleh mereka yang mau mengecam umat Islam; dijadikannya itu tongkat penunjuk dalam kecaman mereka yang cukup memanaskan hati setiap orang yang berpikir jujur.

Dalam berbagai macam bidang beberapa ulama Islam telah tampil dan berusaha menangkis tuduhan orang-orang Barat yang fanatik itu. Dan nama Syaikh Muhammad Abduh tentu yang paling menonjol dalam bidang ini. Tetapi mereka ini tidak menempuh metode yang ilmiah ~seperti didakwakan oleh penulis-penulis dan ahli-ahli sejarah Eropa~ sebab hanya merekalah yang memakai cara itu pada masa itu.[3] Menurut Haekal, untuk membungkam tuduhan para orientalis ini harus dipakai cara yang sama sebagaimana yang mereka agungkan selama ini. Secara tersirat, tujuan ditulisnya buku Hayat Muhammad ini adalah untuk menangkis semua tuduhan-tuduhan orientalis yang tak berdasar seputar kehidupan Muhammad itu secara rasional serta demi mendongkrak semangat para pemuda penerus Islam yang masih diselimuti oleh kekerdilan dan kebekuan berpikir yang terlalu terpesona akan pemikiran orientalis.

Sementara menurut Charles Smith, yang mempersembahkan tesis doktornya (Ann Arbor, 1968) kepada Haekal, menyatakan bahwa Haekal menulis biografi tentang Nabi Muhammad sebagian besar sebagai sarana untuk memperoleh dukungan politik bagi Partai Konstitusionalis Liberal dalam berhadapan dengan rezim Ismail Shidqi. Penggunaan Islam sebagai senjata politik oleh Partai Konstitusionalis Liberal itu dimulai pada akhir 1920-an, ketika Partai ini berusaha mengubah citra dirinya yang dianggap menentang agama setelah kehebohan yang terjadi menyusul Fi al-Syi’r al-Jahili karya Thaha Husain.[4]

2. Isi/Cakupan Kitab

Setelah penulis mencoba mengkaji kitab Hayat Muhammad ini secara lebih mendalam, penulis coba mengklasifikasikan isi kitab ini ke dalam lima bagian, yaitu: [5]

a. Biografi Pengarang Kitab

b. Pengantar dan beberapa Pra-Kata seputar latar belakang penulisan termasuk diantaranya pemaparan berbagai tuduhan orientalis terhadap Muhammad.

c. Penjelasan seputar keadaan bangsa Arab Pra-Islam.

d. Pemaparan berbagai peristiwa dan kejadian selama hidup Nabi SAW dari lahir hingga wafatnya diselingi dengan komentar para orientalis dan ulama Islam masa itu, serta komentar dari pengarang kitab sendiri akan suatu peristiwa yang terjadi.

e. Tambahan dan lampiran.

3. Metode dan Sistematika Penulisan

Penulisan kitab Hayat Muhammad ini sejalan dengan metode ilmiah modern di Barat ~sebuah metode yang mana mengharuskan seorang peneliti bersikap netral dan mengkosongkan prasangka keyakinan dalam hidupnya sebelum melakukan penelitian, kemudian melakukan observasi yang sistematis, terukur, dan rasional~, bertujuan demi kebenaran, dan untuk kebenaran semata. Metode ini dipilih Haekal untuk menepis pandangan orientalis yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang tidak rasional dan dipenuhi mitos dan takhayul.

Di dalam kitab tersebut dipaparkan beragam peristiwa dan kejadian sepanjang hidup Nabi Muhammad. Peristiwa dan kejadian tersebut dijelaskan secara logis dan rasional oleh Haikal. Beberapa buku yang dikaji Haikal terkait kehidupan Muhammad diantaranya adalah Sirat ibn Hisyam, Tabaqat oleh Ibn Sa’d, al-Maghazi oleh al-Waqidi, demikian juga buku Syed Ameer, Ali The Spirit of Islam. Kemudian juga buku-buku beberapa Orientalis, seperti Dermenghem dan Washington Irving.[6] Namun rujukan utama Haekal dalam penulisan kitab ini tetaplah al-Qur’an al-Karim sebagai sumber paling otentik terkait berbagai peristiwa yang dialami Nabi.

Adapun sistematika kitab ini terdiri atas:

· Biografi Pengarang

· Kata Pengantar oleh Syaikh Muhammad Mustafa Al-Maraghi

· Prakata

· Pengantar Cetakan Kedua

· Pembahasan Sejarah Hidup Muhammad dari lahir hingga wafat yang dibagi ke dalam bab-bab yang berjumlah 31 bab.

· Informasi dan lampiran lainnya

D. PEMIKIRAN MUHAMMAD HUSSEIN HAIKAL

1. Corak dan Metode Berpikir Muhammad Hussein Haikal

Dinamika pemikiran hadis di Dunia Islam modern, khususnya di Mesir, banyak dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha., dimana mereka mengajak umat Islam berpikir kritis atas turats salaf dan juga mengajak pada aplikasi hadis yang tidak hanya taklid buta. Mereka mempromosikan penggunaan akal dengan beragam tingkat kekuatan demi menentang pemikiran muslim tradisional yang menolak menerapkan kritik keras terhadap literatur hadis.[7] Tulisan mereka ini berpengaruh besar pada diri Hussein Haekal hingga kemudian lahir dari tangannya sebuah karya monumental historiografi Nabi Muhammad SAW berjudul Hayat Muhammad.

Sebagai pengikut Abduh, Haekal amat mengutamakan kemerdekaan individu dan kebebasan berpikir. Menurutnya Islam itu mengajarkan kebebasan berpikir, tak ada pertentangan antara agama dan ilmu dan tak akan pernah terjadi pertentangan antar keduanya. Pendapatnya ini dimuat dalam bukunya Al-Iman wa al-Ma'rifah wa al-Falsafah.

Dalam menulis karya-karyanya, Haekal memilih menggunakan metode ilmiah modern yang menurutnya merupakan cara yang baik dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang. Lebih mudahnya, dalam buku-buku terdahulu tidak dibenarkan akan adanya kritik seperti sekarang ini.

Haekal menerapkan metode ilmiah modern tersebut guna mendukung pemikiran-pemikirannya. Ia hendak meneliti suatu studi yang sesuai dengan metode ilmu pengetahuan sekarang dengan harapan bahwa dia akan membuka jalan untuk keberadaan penyelidikan lebih lanjut dan mendalam di bidang yang sama ataupun lebih luas guna menghantarkan manusia pada peradaban modern yang dicari. Dengan mengadakan penyelidikan demikian, Haekal yakin, banyak rahasia yang semula diduga tak dapat dipecahkan akan terungkap.

Menurut Haekal, kalangan orientalis telah banyak yang melakukan aktivitas ini, namun sayangnya dalam penelitian dan penyelidikan tersebut, temperamen dan kecendrungan nafsu masih membayangi mereka. Dalam pengujian akan studi mereka, walau sudah berusaha jujur dan teliti, pasti tetap akan terbayang di depan mereka peristiwa-peristiwa yang diciptakan oleh khayal mereka sendiri. Sekiranya orang mau berusaha menurut kemampuannya untuk melepaskan diri dari hawa nafsu dan berpegang pada cara-cara ilmiah saja, tentu hasil studi dan tulisan mereka akan berpengaruh kuat bagi penikmatnya.

2. Pemikiran Haekal tentang Hadis

Hussein Haekal menaruh perhatian lebih pada matan hadis ketimbang sanad hadis. Dia adalah pengikut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Haikal tidak percaya dengan hadis-hadis yang tidak masuk akal. Dia juga sangat kritis terhadap hadis-hadis Isra' Mi'raj. Dia mengutip beberapa hadis yang dianggapnya shahih secara matan, meski sanadnya lemah. Seperti matan dari riwayat Aisyah, Ummu Hani, dan Muawiyah adalah shahih walau sanadnya lemah. Karena semua matannya sesuai dengan Alquran: al-Isra: 60, al-Kahfi: 110, an-Nisa: 68.

Segala usaha penelitian telah dilakukan oleh para penghimpun hadis selama ini, tapi masih banyak hadis yang oleh mereka sudah dinyatakan sahih itu, dinilai oleh beberapa ulama lain masih dinyatakan tidak otentik. Dalam Syarah Muslim, an-Nawawi menyebutkan:

“Ada golongan yang mencoba mengoreksi hadis-hadis Bukhari dan Muslim tapi golongan tersebut tidak menghiraukan syarat-syarat acuan keduanya dan mengurangi pula makna yang menjadi pegangan mereka, yaitu kriteria mereka yang disandarkan pada sanad (askripsi) dan pada kepercayaan mereka kepada sumber cerita sebagai dasar untuk menerima atau menolak hadis itu. Ini memang suatu kriteria yang berharga. Tetapi hanya itu saja tentunya tidak cukup.”

Menurut Haekal, kriteria yang baik dalam mengukur otensitas hadis ~dan mengukur setiap berita yang berhubungan dengan Nabi~ ialah seperti yang pernah diriwayatkan Nabi SAW suatu ketika:

“Kamu akan berselisih sesudah kutinggalkan. Oleh karena itu, apa yang dikatakan orang tentang diriku, cocokkanlah dengan al-Qur’an. Mana yang cocok itu dariku dan mana yang bertentangan, itu bukan dari aku.”

Ini adalah suatu kriteria yang tepat, yang sudah menjadi pegangan pemuka-pemuka Islam sejak permulaan sejarah Islam. Dan sampai sekarang mereka sebagai ahli pikir masih berpegang pada ini. Seperti dikatakan oleh Ibn Khaldun:

“Saya tidak percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan Qur’an, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya. Beberapa pembawa hadis dipercayai karena keadaan lahirnya yang dapat mengelabui, sedang batinnya tidak baik. Kalau sumber-sumber itu dikritik dari segi matan (teks), begitu juga dari segi sanadnya, tentu akan banyaklah sanad-sanad yang akan gugur karena matan. Orang sudah mengatakan bahwa tanda hadis maudhu' itu ialah yang bertentangan dengan kenyataan Qur’an atau dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh hukum agama (syariat) atau dibuktikan oleh akal atau pancaindra dan ketentuan-ketentuan aksioma lainnya.”

Kriteria inilah yang terdapat dalam hadis Nabi tersebut. Dan apa yang dikatakan oleh Ibn Khaldun tadi sesuai sekali dengan kaidah kritik ilmiah modern sekarang.[8]

Hadis-hadis itu dipalsukan orang karena memang ada maksud politik atau kemauan-kemauan insidentil lainnya. Demikian banyaknya hadis-hadis palsu itu sehingga kaum Muslimin kemudian terkejut sekali, karena ternyata banyak pula yang tidak cocok dengan yang ada dalam Kitabullah. Usaha untuk menghentikannya pun sudah banyak pula dikerahkan pada zaman Umayyah, tapi tidak juga berhasil.

Pada masa dinasti Abbasiyyah dan Ma’mun yang berkuasa saat itu, dua abad kemudian sesudah Nabi wafat, puluhan atau ratusan ribu hadis-hadis maudhu’ itu sudah tersebar ~diantaranya terdapat banyak yang lemah dan kontradiksi sekali~. Oleh karena itu, untuk menentukan validitas dan keotentikan hadis tersebut apakah benar-benar bersumber dari Nabi atau bukan, maka harus dicocokkan dengan Qur’an. Mana yang cocok maka itu dari Nabi, mana yang bertentangan harus ditinggalkan.

Sekiranya kriteria itu dipakai dengan penelitian sebagaimana mestinya, segala yang sudah ditulis oleh para penghimpun hadis sebelumnya itu niscaya akan berubah. Kritik ilmiah menurut metode modern sama sekali tidak berbeda dari kriteria ini. Akan tetapi situasi masa itu mengharuskan tokoh-tokoh tersebut menyesuaikan kriteria mereka itu untuk sesuatu golongan. Kalau orang mau berlaku jujur terhadap sejarah, tentu mereka akan menyesuaikan hadis itu dengan sejarah hidup Nabi, baik dalam garis besar, maupun dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain yaitu al-Qur'an, hukum alam dan akal. Yang tidak cocok dengan yang ada dalam Qur’an dan tidak sejalan dengan hukum alam ~setelah dilakukan pembuktian terlebih dahulu~, tidak perlu mereka catat.

Pendapat ini telah dijadikan pegangan oleh para imam terkemuka dari kalangan Muslimin dahulu, dan banyak imam di zaman sekarang. Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi dalam kata perkenalan buku ini menyebutkan: “Kekuatan mukjizat Muhammad s.a.w. hanyalah dalam Qur’an, dan mujizat ini sungguh rasional adanya."

Almarhum Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, Redaktur majalah Al-Manar dalam menjawab kritik orang yang menentang kitab ini, menulis: "Qur’anlah satu-satunya pembuktian Tuhan yang positif khusus tentang kenabian Muhammad SAW. dan kenabian para nabi yang lain. Ciri-ciri mereka pada zaman kita sekarang ini tak dapat dibuktikan tanpa kenyataan ~keberadaan al-Qur'an~ tersebut."[9]

E. STUDI KRITIS ATAS PEMIKIRAN HAEKAL TENTANG HADIS

Sebagai manusia, terlepas dia disegani atau tidak, terkenal ataupun tidak, pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Apalagi menyangkut buah pemikirannya yang tak akan terlepas dari unsur subjektivitas pemikirnya. Adakalanya pemikiran seseorang itu dinilai salah atau ketinggalan zaman oleh orang semasanya ataupun generasi setelahnya. Namun terlepas dari semua itu, sebagai generasi Islam hendaklah kita selalu mengapresiasi dengan baik berbagai pemikiran yang muncul di dunia Islam sebagai khazanah keilmuan Islam yang berharga.

Berbicara mengenai pemikiran Haekal kali ini, penulis coba untuk menganalisa sejauhmana pemikiran tersebut dapat diaplikasikan di masa sekarang. Beberapa kelebihan yang penulis temukan akan pemikiran Haekal ini, yaitu sebagai berikut:

a. Sikap kritisnya akan riwayat-riwayat sejarah dan sirah. Sikapnya ini tercermin ketika beliau membahas dalam kitabnya Hayat Muhammad beberapa riwayat yang terkesan merusak citra Islam karena bertentangan dengan ilmu dan akal. Ada dua faktor yang membuatnya tidak sembarang menerima riwayat mengenai biografi Nabi. Pertama, adanya perbedaan riwayat dalam kitab-kitab sirah dan hadis mengenai biografi Muhammad, baik itu tahun lahir, wafat, dan hal-hal lain, khususnya yang terkait mukjizat. Kedua, waktu penulisan sirah Nabi yang terlambat. Kitab sirah pertama ditulis setelah seratus tahun Nabi wafat bertepatan dengan masa Islam yang penuh konflik.

b. Haekal menggunakan metode ilmiah dengan berbagai pendekatan dari beragam disiplin ilmu modern. Banyak serangan dan pendapat orientalis yang dibantah Haekal dengan menggunakan pendekatan ilmu modern, seperti kedokteran, psikologi, dan lain-lain.

c. Bahasa yang digunakan mengandung sastra yang tinggi tapi tetap mudah dipahami. Hal ini wajar mengingat Haekal juga sastrawan.

d. Sumber yang dijadikan rujukan dalam Hayat Muhammad hanya sumber-sumber berbahasa Arab dan tidak mengambil dari tulisan orientalis. Dia menjadikan al-Qur'an sebagai sumber sejarah pertama yang tak ada keraguan di dalamnya. Haekal hanya mengambil tulisan orientalis sebagai sumber untuk dibandingkan saja atau dijadikan pelurus pendapat yang beliau kritik.

Di balik kelebihan pasti ada kekurangan, itulah hukum alam. Beberapa poin yang perlu penulis garisbawahi seputar pemikiran Haekal ini adalah:

a. Pola pikir Haekal terlalu rasional hingga seolah-olah tidak mempercayai adanya mukjizat Nabi yang menurut beliau bertentangan dengan rasio.

b. Ukuran keshahihan yang terlalu sempit. Tidak semestinya langsung menolak hadis yang matannya tampak bertentangan dengan al-Qur'an, hukum alam, dan akal secara serta merta. Adakalanya memang pemahaman dan pemikiran manusia belum mampu menangkap makna tersirat di baliknya.

c. Sedikit menyebutkan sumber-sumber primer atau sanad-sanad riwayat penyusunan biografi Nabi dalam Hayat Muhammad.

Kritik Terbuka akan Kitab Hayat Muhammad

Secara khusus penulis ingin mengkritisi kitab Hayat Muhammad, baik dari segi isi maupun metodenya. Terlepas apakah nantinya pemikiran penulis ini benar atau salah, penulis hanya ingin mengungkapkan ganjalan di hati ketika sedikit membaca kitab Hayat Muhammad. Pada sebagian pertama, kitab ini tak ada bedanya dengan tulisan seorang orientalis Barat walau penulisnya menyatakan bahwa dia membela Rasulullah dari berbagai tuduhan dan serangan orientalis yang tidak berdasar.

Di dalam kitabnya Haekal seringkali menuliskan perbedaan pendapat baik itu yang datang dari para ulama ataupun orientalis, tapi kemudian tidak ada analisis lebih lanjut yang menyatakan kebenaran salah satunya, baik menurutnya sendiri ataupun kesepakatan ulama. Jadi, hanya sebatas menyebutkan pendapat dan sedikit penjelasan.

Dengan berdalih seakan-akan ia adalah seorang pahlawan yang menggunakan metode ilmiah dan metode modern, ia kemudian menyusun kitabnya, padahal pada kenyataannya ia hanya memulai mengulang kembali apa yang telah diselesaikan oleh para ulama sejak abad pertama, semisal penjelasan beliau pada peristiwa Gharaniq yang hanya mengutip kembali perkataan Ibn Ishaq (w. 151 H), “Sesungguhnya itu adalah pemalsuan (karangan) orang-orang zindiq”. Jadi hendaknya metode ilmiah dan modern apa yang dimaksud Haekal, itu semestinya perlu dipertanyakan bentuknya dan kejelasannya.

Mengenai metode modern dan metode kontemporer yang beliau usung dalam penyusunan kitab itu sendiri, tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai alur dan jalan-jalannya, tidak digariskan rambu ataupun tanda-tandanya. Sejak awal terlihat bahwa peristiwa-peristiwa dan analisanya diuraikan tanpa metode dan batasan yang jelas. Peristiwa-peristiwa tersebut hanyalah berupa kumpulan narasi yang dipilih berdasarkan perasaan pengarangnya dan sesuai pendapat si pengumpulnya.[10] Sementara apabila kita melihat orang-orang yang disebutkan dan diremehkan oleh penulis ~para ahli hadis dan sirah~ selama ini, kita tahu mereka adalah orang-orang yang memiliki metode, aturan, dan kriteria yang sudah jelas dan diakui di masanya. Metode mereka tercatat dalam buku-buku musthalah dan biografi para periwayat (kutub al-rijal) yang sampai pada kita.

Kemudian mengenai pengakuan Haekal yang menyatakan bahwa sumber sirah paling otentik adalah al-Qur'an, hal ini perlu dikritisi dan ditinjau ulang karena dalam pembahasan kitab tersebut tidak tampak bekas atau pengaruh ayat-ayat al-Qur'an.[11]

F. KESIMPULAN DAN PENUTUP

Secara garis besar, ada beberapa hal mendasar yang dapat disimpulkan di sini. Penulis membaginya dalam beberapa poin, yaitu sebagai berikut:

Ø Dengan latar belakang riwayat hidup Haekal yang kebanyakan berkutat di bidang politik dan jurnalistik, tak mengherankan banyak karya fenomenal lahir dari tangannya.

Ø Kitab Hayat Muhammad yang merupakan salah satu hasil goresan penanya adalah sebuah historiografi tentang Muhammad yang disusun dengan metode ilmiah modern, sebagaimana pengakuan pengarangnya sendiri. Kitab ini menjadi pedoman banyak kalangan untuk mengetahui alur sejarah kehidupan Rasulullah. Walau kemudian pada kenyataannya memang harus diakui bahwa kitab ini memiliki kelebihan dan kekurangan juga sebagaimana semua hal di dunia ini.

Ø Sebagaimana disebutkan selintas dalam kitabnya tersebut, Haekal termasuk orang yang lebih memperhatikan matan hadis ketimbang sanadnya. Menurutnya, hadis akan diterima apabila matannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an, hukum alam, dan akal. Ini didasarkannya dengan mengutip riwayat dari Nabi sendiri dan penjelasan lebih lanjut dari Ibn Khaldun.

Demikian sedikit hal yang bisa penulis sampaikan melalui makalah ini. Terlepas apakah keterangan penulis dapat diterima ataupun tidak, hanya inilah yang mampu penulis sajikan. Oleh karena itu, untuk selanjutnya, penulis sungguh mengharap kritik dan saran dari Bapak Dosen dan teman-teman semua untuk rekonstruksi makalah yang akan darang.

Wallahu A’lam!

DAFTAR PUSTAKA

Fathoni, Ahmad Atha’illah. 2007. Leksikon Sastrawan Arab Modern: Biografi dan Karyanya. Yogyakarta: Datamedia.

Haekal, Muhammad Hussein. 2008. Sejarah Hidup Muhammad. Pustaka online MEDIAISNET.

Haekal, Muhammad Hussein. Hayat Muhammad. Beirut: Dar al-Qalam.

Hamidah, Faruq. 1998. Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah. Jakarta: Gema Insani.

Juynboll, G. H. A. 1999. Kontroversi Hadis di Mesir, terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan.

Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir: Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif.

Speight, R. Marston. 2002. "Hadis" dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern terj. Eva Y. N. Dkk. Bandung: Mizan.


[1] Muhammad Hussein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (pustaka online MEDIAISNET), hlm. i.

[2] Ahmad Atha’illah Fathoni, Leksikon Sastrawan Arab Modern: Biografi dan Karyanya, (Yogyakarta: Datamedia, 2007), hlm. 111

[3] Sejarah Hidup Muhammad,, hlm. 6.

[4] G. H. A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 53.

[5] Perlu diketahui kalau yang menjadi rujukan utama makalah ini adalah kitab Hayat Muhammad yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Hidup Muhammad oleh Ali ‘Audah, di mana di dalamnya terdapat biografi pengarang. Sementara pada kitab original Hayat Muhammad sendiri terbitan Dar al-Qalam, biografi pengarang, sejarah pembentukan mushaf al-qur’an menurut ahli sejarah non-muslim, dan kotbah 'arafat tidak ditemukan.

[6] Sejarah Hidup Muhammad, hlm.5.

[7] R. Marston Speight, "Hadis" dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern terjemah Eva Y. N. dkk (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 129.

[8] Sejarah Hidup Muhammad, hlm. 13.

[9] Sejarah Hidup Muhammad, hlm.14.

[10] Faruq Hamidah, Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah(Jakarta: Gema Insani, 1998), hlm. 154

[11] Rekan Haekal, al-Ustadz al-Sayyid Ahmad Luthfi telah memberikan kepadanya sekumpulan ayat yang diklasifikasikan dalam tema-tema kehidupan Nabi SAW. Namun, tidak tampak pengaruh ayat-ayat tersebut dalam pembahasan malahan ia memuat ayat tersebut bukan pada tempat semestinya dan menjadikannya argumen yang tidak nyambung.

Qazaf

PENGERTIAN QAZAF

Pengertiannya ialah melimparkan tuduhan zina kepada orang yang
baik lagi suci atau menafikan keturunanya.

PEMBAHAGIAN QAZAF

1.) Qazaf yang pesalah-pesalahnya boleh dikenakan hukuman hudud,
seperti seseorang menuduh seseorang yang baik lagi suci berzina tanpa
mengemukakan empat saksi lelaki yang adil.

2.) Qazaf yang pesalah-pesalahnya boleh dikenakan hukuman takzir
seperti seseorang menuduh seseorang yang lain kufur, mencuri, minum
arakatau murtad dan sebagainya, termasuk mencaci, memaki dan
lain-lainnya yang boleh menjatuhkah marwah seseorang dan menghinanya.

Menuduh seseorang yang baik lagi suci berzina tanpa mengemukakan
empat orang saksi lelaki yang adil hukumnya adalahharam dan termasuk
dalam dosa besardan wajib dikenakan hukuman had Qazaf (sebat) sebanyak
80 kali sebat, dan tidak boleh diterima penyaksiannya selama-lamanya
kerana dia adalah orang fasiq. Sebagaimana Firman Allah Taala yang
bermaksud:

"Dan orang-orang yang melemparkan tuduhan zina kepada
perempuan-perempuan yang terpelihara kehormatannya, kemudian mereka
tidak membawa empat orang saksi. Maka sebatlah mereka 80 kali sebat,
dan janganlah kamu terima persaksian mereka itu selama-lamanya kerana
mereka itu adalah orang yang fasiq".
(Surah An- Nur ayat 4)

PENUDUH YANG BOLEH DIKENAKAN HUKUMAN QAZAF

1. Berakal
2. Baligh
3. Kemahuan sendiri tidak dipaksa
4. Mengetahui haramnya Qazaf
5. Bukan ibu bapa dan datuk ke atas kepada orang yang dituduh.

Jika orang yang menuduh itu gila atau kanak-kanak yang belum
baligh, tidak boleh dikenakan hukuman had Qazaf keatas mereka. Ini
sebagaimana berdasarkan kepada hadith Rasulullah s.a.w. yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bermaksud:

"Allah tidak akan menyiksa tiga golongan manusia, iaitu
kanak-kanak sehingga ia baligh, orang yang tidur sehingga ia bangun
dari tidurnya dan orang yang gila sehingga ia sembuh dari gilanya".
(Riwayat Bukhari Fi Muslim)

CARA-CARA MELAKUKAN QAZAF

Dalam Qanun Jenayah Sayr'iyyah cara melakukan Qazaf terdapat tiga
cara:

i) Tuduhan yang dibuat secara sarih (terang dan jelas), iaitu
tuduhan yang menggunakan perkataan-perkataan yang jelas dan tepat yang
tidak boleh ditafsirkan kepada maksud yang lain selain daripada zina
dan penafian nasab (keturunan)

ii) Tuduhan yang dibuat secara kinayah (kiyasan), iaitu tuduhan
yang menggunakan perkataan yang tidak jelas dan tidak tepat yang boleh
membawa erti zina atau selainnya.

iii) Tuduhan yang dibuat secara ta'ridh (sindiran), iaitu tuduhan
yang menggunakan perkataan yang tidak jelas dan tidak tepat juga yang
boleh memberi pengertian yang lain daripadazina sebagaimana dilakukan
dalam perkataan kinayah.

BUKTI-BUKTI YANG MENSABITKAN KESALAHAN QAZAF

Kesalahan Qazaf boleh disabitkan dengan salah satu dari bukti
–bukti yang berikut:-

1. Syahadah (penyaksian)
2. Ikrar (pengakuan)
3. Yamin (sumpah)

Senin, 30 November 2009

kebebasan pers untuk masyarakat

Oleh Taufik Al Mubarak

Grove Paterson, seorang tokoh pers di Amerika mendefinisikan tanggung jawab sosial pers sebagai keharusan memastikan bahwa ‘koran adalah wakil masyarakat secara keseluruhan, bukan kelompok tertentu saja.'


Sebagai seorang anggota masyarakat yang peduli pada kebebasan pers, saya merasa sangat prihatin sekali terhadap kasus yang menimpa TEMPO. Keprihatinan saya cukup beralasan. Jika kebebasan pers dibunuh, maka sebenarnya bukan hanya kebenaran yang dibunuh melainkan juga keinginan bangsa untuk maju harus ditunda. Yang saya tahu, pembangunan suatu bangsa/negara sangat terkait juga dengan sejauhmana tingkat kebebasan pers di negara itu. Di negara-negara yang memiliki kebebasan pers relatif lebih baik, sering diikuti dengan pesatnya pertumbuhan di negara itu.

Atas alasan ini, TEMPO harus dibela sebagai pembelaan atas kebebasan pers. TEMPO harus dibela dari rongrongan—meminjam istilah Bambang Harymurti dalam pleidoinya: kekuatan jahat—yang hendak membungkam kebebasan pers di Indonesia yang mulai sedikit longgar. Karena sebenarnya bukan hanya kebebasan yang direnggut, tetapi juga kepentingan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara benar dan kritis.

Dalam sebuah Pelatihan Jurnalistik di Universitas Indonesia beberapa bulan yang lalu, seorang wartawan TEMPO (saya lupa namanya) menyampaikan tentang permintaan anak buah Tommy—yang menyerang kantor TEMPO—bahwa jika pihak TEMPO mau membeberkan nama narasumber TEMPO yang memberikan keterangan maka persoalan dengan TEMPO dianggap selesai. Dari itu saya menangkap bahwa TEMPO sudah bertindak secara cukup arif dengan melindungi saksi atau narasumbernya. Walaupun konsekuensinya TEMPO harus dituntut ke pengadilan.

Pernyataan itu teringat kembali ketika membaca Pleidoi Bambang Harymurti (Pemred TEMPO) seperti dimuat dalam TEMPO edisi 30 Agt-6 Sept 04. Saya melihat pemberitaan TEMPO “Ada Tomy di Tenabang” (Edisi 3-8 Maret 2003) sebagai informasi yang penting diketahui oleh publik. Walaupun dengan memuat pemberitaan seperti itu, pihak TEMPO harus berurusan dengan kelompok tertentu seperti Tommy Winata. TEMPO sudah menunaikan kewajiban/atau telah melaksanakan tanggung jawab sosial pers dengan menyiarkan pemberitaan tentang hal itu.

Dalam hal ini, TEMPO sudah berusaha menempatkan diri sebagai forum pertukaran pendapat, komentar dan kritik. TEMPO memerankan diri sebagai wakil dari masyarakat untuk melakukan kontrol sosial. Karena di sinilah letak “simbiosis mutualisme” antara TEMPO sebagai media dengan publik pembacanya. Di mana media perlu membangun relasi dengan publik yang diwakilinya dengan melemparkan suatu kasus atau masalah yang berhubungan publik untuk didiskusikan secara bersama-sama. Dengan begitu, akan mudah didapat titik terang atas suatu masalah, yang sebelumnya nampak sebagai misteri bisa menjadi jelas dan terungkap.

Apalagi kasus pasar Tanah Abang. Pembakaran pasar Tanah Abang bukan hanya pembakaran terhadap pasar grosir terbesar di Asia Tenggara melainkan juga “membakar” kesempatan berusaha dan harapan hidup masyarakat kelas bawah yang mengadu nasib di sana. Sisi ini juga harus dilihat secara benar. Bahwa negeri ini bukan hanya milik mereka yang punya akses ke kekuasaan dan modal besar, melainkan juga milik mereka yang secara sosial ekonomi kurang beruntung.

Di sini, sebenarnya TEMPO sudah berdiri di belakang kaum lemah dan memperjuangkan nasib mereka. TEMPO mencoba membantu mereka untuk mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Bahwa kasus terbakarnya pasar Tanah Abang bukan semata-mata peristiwa biasa, atau hanya sebagai musibah. Melainkan harus dilihat dari sisi yang lain sebagai permainan orang-orang “hebat” di negeri ini untuk meluaskan bisnisnya.

Berita itu sendiri merupakan hasil investigasi penulisnya yang mencoba menangkap pendapat masyarakat di sekitar tempat kejadian. Dengan model seperti ini, kebenaran atau duduk soalan suatu perkara dapat diketahui secara objektif. Dalam kehidupan seperti sekarang ini, setidaknya masyarakat perlu mendapatkan informasi lebih besar dari sebelumnya dari media. Informasi itu sendiri tidak hanya berasal dari sumber resmi. Rakyat juga harus didengar karena mereka juga punya hak mengungkap kebenaran.

Dengan begitu, setidaknya media sudah membantu pemerintah menjalankan tugasnya. Apa yang selama ini tidak mendapat perhatian dan hanya dilihat sebagai kasus biasa. Dengan adanya pemberitaan begini pemerintah bisa mencari tahu penyebabnya, setidaknya mengetahui persoalan yang dialami oleh rakyat yang menderita. Sehingga memikirkan bentuk penyelesaiannya.

Ukuran kebenaran dengan sendirinya tidak lagi ditentukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan/modal. Karena masyarakat kita bisa disebut sudah lebih cerdas dari sebelumnya. Masyarakat tidak mentah-mentah menerima pemberitaan media, melainkan juga akan mencari kebenaran di balik pemberitaan tersebut. Masyarakat kita adalah masyarakat sederhana di satu sisi dan masyarakat modern di sisi lain atau transisi menuju masyarakat modern. Dalam masyarakat sederhana—seperti definisi yang diberikan Komisi Kebenaran Pers Amerika dalam buku Media Massa dan Masyarakat Modern (terjemahan;2003)—kebenaran akan dicari dengan cara membandingkan pemberitaan media dengan informasi dari sumber-sumber lain. Sementara dalam masyarakat modern, isi media merupakan sumber informasi dominan, sehingga media lebih dituntut untuk menyajikan berita yang benar. Atas pertimbangan dua model masyarakat ini, TEMPO memuat berita seperti itu.

Di Indonesia sendiri, untuk sementara kita harus merumuskan ulang ukuran kebenaran pemberitaan sistem cover both side. Bagaimana operasional cover both side? Jika seorang wartawan melihat seorang polisi memukuli seorang masyarakat sampai meninggal, dan dia ada pada saat itu, apakah untuk keperluan cover both side dia harus mengkonfirmasi kepada atasan di polisi itu. Apakah lalu wartawan harus meragukan penglihatannya. Jika dia mengikuti kaidah cover both side, berita dia yang sebelum ditulis sudah benar menjadi abu-abu ketika menjadi pemberitaan.

Di sini saya tidak berada dalam posisi membela investigasi yang dilakukan oleh wartawan TEMPO seperti disampaikan dalam Pleidoi Pemred-nya, melainkan mencoba berbaik sangka pada pemberitaan TEMPO dan mencari kebenaran dari berita tersebut. Kadang-kadang kebenaran harus dicari dari sobekan-sobekan koran. Tugas media hanyalah menyampaikannya kepada publik pembacanya suatu kejadian atau peristiwa, lalu masyarakat yang menilai kebenaran berita tersebut walaupun harus berhadapan dengan orang-orang hebat itu.

Terakhir saya hanya bisa menyampaikan lewat tulisan singkat ini: Bebaskan TEMPO!! Jangan kriminalkan pers. Saatnya perkara pers harus diselesaikan dengan menggunakan UU Pers bukan KUHP. Pasal 63 ayat (2) KUHP menyatakan: “Jika suatu perbuatan, yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum, diatur pula dalam aturan pidana khusus, maka hanya khusus itulah yang dikenakan.” Dengan begitu, UU Pers merupakan lex specialist (aturan khusus) terhadap KUHP (generalist) dan peraturan perundang-undangan yang lain. Dalam perkara TEMPO, seharusnya UU Pers yang digunakan bukan KUHP.


Penulis adalah anggota masyarakat yang peduli kebebasan pers, freelance

Freedom yang sebenarx...

Wed, 01 Mar 2006 17:40:26 -0800

Assalamu 'alaikum wr.wb.
Ada kebanggaan seorang "sister" sebagai seorang
muslimah yg tinggal di US, semoga ada hikmahnya buat
kita, amin.
Mohon maaf untuk yg tidak berkenan,
Wassalam Wr. Wb,
http://yartati.multiply.com


Assalamu 'alaikum wr.wb.

Beberapa waktu yang lalu kami menghadiri karnaval,
Eidkarnaval tepatnya, yang diselenggarakan oleh
salahsatu masjid di South-bay sini.
Lazimnya sebuah karnaval, tentunya meriah dengan
macam-macam fun-ride untuk anak-anak, cotton-candy,ada
juga stand-stand, dan tentu saja...mmm, makanan.
Menu yang disajikan kali ini kebanyakan ala pakistan
dan afganistan. Jadilah saya nyicip briyani dan
barbeque pakistani-nya.
Eh kok jadi cerita soal makanan. Membaca resep
bakso-nya uni Lila dan serba-serbi indomie-nya ummu
Itqon jadi laper deh. Dingin-dingin begini asik kali
enak makan bakso pedess. Wah, maaf nih keterusan.


Soal makanan tadi, ini memang ada hubungannya dengan
cerita yang ingin saya tuliskan.
Tengah asik menyuapi si kecil sambil mengawasi
kakak-kakaknya naik merry-go-arround (waktu saya bocah
dulu,di kampung saya namanya korsel atawa komedi
putar), tiba-tiba seorang sister melintas tergesa di
hadapan saya. Tadinya sih mau lewat begitu saja, tapi
ketika melihat wajah saya, dia lantas berbalik
mendekat dan duduk tepat di sebelah.
" Ah sukurlah bukan orang Arab." ujarnya sambil
menghela nafas seraya menarik sedikit kerudung di
kepalanya yang mencong-mencong.
" Assalamu'alaikum, sister. Apa kabar ?" tanya saya
mencoba menyapa dengan ramah.
" alaikum salam. yah baik-baik saja. Anda berasal dari
mana sister ?"
" Indonesia." jawab saya.
" Di mana itu ya?" tanyanya,"sebelah mananya negara
arab?".
Ah tipikal. Hampir semua orang di lingkungan muslim
pun tidak tahu di mana itu Indonesia, atau barangkali
tidak tahu apakah itu nama negara atauhkah
jenis makanan. Saya jelaskan sedikit sekalian ngasih
tahu kalau Indonesia itu negara dengan penduduk muslim
terbesar di dunia. Dia cuma bengong seperti tak
percaya.
" kok tidak pernah kedengaran ya." komentarnya. Nah
kalau sudah begini, selain mangkel, sedih juga
rasanya.
Kita, muslimin Indonesia yang ratusan juta jumlahnya
seperti tak pernah kedengaran perannya sebagai kaum
penebar rahmat. Bukan sekali dua kalau bertemu sisters
mancanegara di sini, mereka tidak tahu Indonesia
apalagi perannya sebagai pembela ummat Islam.
Bagaimana tidak mengherankan, kalau di negeri sendiri
saja ummat Islam sudah dipecundangi dengan sangat
memalukan.
" Mungkin anda saja yang lupa pelajaran geografi."
kata saya sembari memandang wajah arab yang cantik
ini, putih kemerahan warna kulitnya. Sayang, ada
gelisah di matanya.
" Anda sendiri dari mana ?" tanya saya. Dia sebutkan
negara asalnya.
" Anda tahu di mana itu ?" tanya sister itu.
" Oh tentu saja. Salah satu negara Arab dan..." saya
sebutkan beberapa negara lain yang berbatasan dengan
negerinya itu serta produk terkenal yang dihasilkan
negaranya.
" Anda tahu semua itu ?" tanyanya heran. Saya
tersenyum.
" Maaf,no offense, anda kan bukan orang arab, kenapa
anda pakai hijab ?" tanya nya tiba-tiba. Belum sempat
saya jawab, sister ini buru-buru melanjutkan.
" actually..., hijab ini bagi saya adalah beban. Itu
sebabnya saya tidak mau kembali ke negara asal saya,
tidak bebas, di sini saya bebas. .."
" Mengapa anda berpikir begitu ?" tanya saya.
" Yah anda tahu kan, kami di negara arab diwajibkan
pakai hijab oleh negara. Tidak ada kebebasan bagi
wanita...tapi di sini saya bisa berbuat apa saja. Oh
ya saya pakai hijab begini sewaktu-waktu saja, kalau
ada acara khusus...sebenarnya saya juga tidak suka
bertemu orang arab, mengingatkan saya pada kebodohan
dan kekasaran saja..."
" Lalu bagaimana anda bisa sampai ke US ?" tanya saya.
" Waktu itu ada program pertukaran pelajar keperawatan
dan saya termasuk yang dikirim kesini. Setelah program
selesai, saya bertekad untuk tidak kembali. Saya sudah
bulat hidup mati di sini. Tapi saya butuh pegangan
supaya bisa tinggal di sini kan ? Karena itulah lantas
saya kawin dengan orang Bule. Status saya berubah.
Saya sudah citizen di sini sekarang..." ujarnya dengan
nada
bangga." Saya tidak harus pakai hijab. Saya bisa punya
pekerjaan yang baik. Masa depan saya terjamin."
lanjutnya.
" Jadi anda bahagia sekarang ini ya ?" tanya saya,
penasaran mengamati mata lentiknya yang resah.
" Ah jangan begitulah..." ujarnya seraya membuang
pandangan jauh kedepan. Dihelanya nafas panjang.
" Anda tanya soal perkawinan saya kan ? Anda tahu
sendiri, orang di sini pagi kawin, sore bisa cerai
lagi. Atau kalaupun kawin tidak ada jaminan bakalan
setia, maksudku...yah sewaktu-waktu ganti
pasangan...atau punya kencan lain...atau tak perlu
kawinlah...bikin bengkak beban tax saja...ya memang
kadang saya masih ketemu dia..."
" Bukan soal itu," kali ini saya yang memotong.
" maksud saya anda sudah peroleh kebebasan yang anda
inginkan ...apakah anda masih akan terus menghindar
dari bangsa anda ?"
" Memang begitu. Kadang saya ingin datang juga ke
perayaan muslim macam Ied ini, sekadar datanglah,
makan-minum, ketemu menu yang cocok di lidah. Tapi
saya memang nggak nyaman deket-deket orang arab. Nanti
dikatakan orang sini teroris lagi ....saya malu kalau
orang-orang tahu saya ini muslim." jelasnya.
Saya jadi teringat cerita seorang teman dari Mesir
sewaktu baru pindah rumah. Tiba-tiba saja tetangganya
datang memohon, " Please, jangan ledakkan rumah saya."
Astagfirullah. begitu buruknya gambaran tentang orang
Arab atau orang Islam di negeri ini.
"Eh anda belum jawab pertanyaan saya tadi soal hijab."
sister itu mengingatkan.
" Negara kami tidak pernah mewajibkan hijab. Kami
berhijab karena kesadaran. Pada mulanya ini pilihan
yang sangat sulit. Sebagian dari kami telah kehilangan
pekerjaan bahkan kesempatan untuk sekolah karena
berhijab. Sebagian lagi mengalami cacat seumur hidup
akibat penyiksaan karena memakai hijab. Belum lagi
hinaan dan cemoohan. Tapi muslimah di sana tegar
dengan pilihannya. Semakin ditekan, kesadaran berislam
semakin tumbuh subur. Jadi sangat ironi dengan apa
yang terjadi pada diri anda..."
" Hey, bukankah negara anda muslim terbesar...?"
" Memang benar. Sebagian dari kami percaya bahwa
pemerintah sangat toleran dengan kaum non muslim. Demi
toleransi ini, kalau perlu mayoritas mengalah
...begitulah kira-kira, selain banyak lagi masalah
lain yang rumit yang tidak bisa anda bayangkan." entah
mengapa masih saja ada pembelaan dalam jawaban saya.
Seburuk-buruknya negeri kita, rasanya masih saja tak
rela untuk menyebutnya di depan bangsa lain.
" Jadi kalau negaramu tidak mengharuskan, kenapa kamu
mau pakai hijab ? bodoh sekali bukan ?" tanyanya lagi.
" Seperti saya katakan tadi, kami melakukannya karena
kesadaran sebagai muslimah. " jawab saya.
" Apa maksudmu ? saya juga muslimah." sanggahnya.
" Tahukah anda bahwa tanpa diwajibkan oleh negara anda
sekalipun, kewajiban berhijab itu tetap ada ? " saya
balik bertanya.
" Anda membingungkan." jawabnya.
" Lihatlah ini." jawab saya sembaring menyodorkan
qur'an saku padanya. Saya bukakan ayat tentang hijab
di surat al Ahzab.
" Maksudmu kewajiban itu adalah perintah Tuhan ..?"
tanyanya.
" Tidakkah anda tahu ? atau pernah membacanya ?"
" Mmm, no." jawabnya ragu. Saya jadi berpikir
jangan-jangan sister ini bahkan tidak punya qur'an di
rumahnya.
" Anda boleh menyimpannya." lanjut saya. Ia nampak
ragu. " Maaf qur'an ini memang sudah lusuh. Maklumlah
saya memilikinya sejak lebih dari 13 tahun lalu waktu
masuk universitas. Setidaknya simpanlah, sampai anda
punya yang baru..." saya berusaha meyakinkannya.
" astaga..selama itu anda menyimpannya ?" tukasnya.
Saya tersenyum. " Yah dia teman saya saat sendirian.
Hanya saja saya agak kesulitan menghafalnya, mungkin
karena tidak mengerti bahasanya. Karenanya saya selalu
membawanya untuk membaca dan mengingat perintah Tuhan.

Anda beruntung lahir di negara yang berbahasa al
Qur'an." ujar saya. " Anda tahu, Kebebasan bagi saya
adalah terbebasnya dari segala bentuk penghambaan
kecuali kepada Allah. Itu sebabnya bagi saya berhijab
adalah salah satu bentuk kebebasan, bukannya beban
seperti yang anda rasakan. "
Dia diam saja. Saat itu hujan mulai turun
rintik-rintik. Si sulung dan si nomor dua datang
sambil berlari-lari kecil.
" Is it ashr time ?" tanya si sulung. Saya jawab insya
Allah sebentar lagi.
" Ok," jawab si sulung. " Let's wudu" ajaknya kepada
adiknya. Saya ikuti mereka dengan pandangan sayang.
Walau kadang bandel, syukurlah kalau soal shalat
mereka sangat cinta.
" Mereka anakmu juga?" tanya sister itu lagi.
" Ya" jawabku.
" Berapa umurnya ?"
" Yang besar hampir 6 tahun, adiknya 4, dan si kecil
ini dua bulan lagi tepat 2 tahun." jawab saya.
Sister itu terdiam.
" Kalau kamu jadi saya, apakah kamu akan stay di
negara arab ?" tanyanya tiba-tiba.
" Di manapun kita harus berjuang untuk kebebasan yang
sesungguhnya. Berjuang untuk menegakkan nilai-nilai
Tuhan. Meski itu di negara Arab. Bila itu yang anda
perjuangkan, dimana pun insya Allah saya mendukung
anda" jawab saya.
" Kalaupun tinggal disini, bila hanya jadi budak
nafsu,tidak akan memberi kebahagiaan. Anda harus
berjuang untuk kebebasan yang sebenarnya..."
Sore makin terasa dingin. Waktu saya ajak ke dalam
masjid untuk shalat ashar, dia menggeleng.
" Saya harus pulang." tuturnya. Dia melangkah
perlahan, kali ini tidak tergesa seperti tadi. Saya
berdoa mudah-mudahan saja ia masih ingat cara shalat.
Di dalam masjid saya berjumpa sister Khadijah dari
Palestina. Entah mengapa tiba-tiba ia berkata,
"Sesungguhnya tugas terberat kami adalah
....mengislamkan orang-orang Arab sendiri,".
Berceritalah ia tentang sebagian bangsanya yang malu
mengaku dirinya muslim. Apa saja dilakukan asal bisa
terbebas dari atribut keislaman yang identik dengan
terorisme, keterbelakangan dan belenggu kebebasan.
Teringat saya dengan kondisi di negara kita yang
sebenarnya tidak jauh berbeda. Jalan ini masih amat
panjang terbentang, mendaki lagi sukar. Kian lama kian
terasa seakan menggenggam bara.
Saya dan anak-anak pulang ketika gerimis makin
membasah. Dua jagoan kami berceloteh tentang karnaval,
sementara pikiran saya masih di pertemuan tadi.
Wa Islama....wa islama..., wahai Islam...wahai Islam,
begitulah bisikan syair yang terngiang di telinga
saya. Bagaimana kita bisa tegak penuh harga diri jika
umat Islam sendiri malu dengan agamanya ?
Bagaimana kita dapat menjadi penebar rahmat kalau kita
sendiri jauh dari firman sang Pemberi Rahmat?
Ah..saya jadi ingin merajut malam ini. Tidak, bukan
merajut rumah laba-laba yang rapuh tapi merajut
permadani yang kuat yang bakalan menerbangkan anak
cucu kami ke alam kebebasan,....bebas mencintai
tuhannya.

Wassalam,
Ema Kaysi
maryadie] Fwd: [Imsa-Sisters] Pada sebuah karnaval
(dari arsip lagi)

Rabu, 25 November 2009

KEBENARAN

kebenaran dambaan setiap insan

Meskipun bagi penipu mendambakan kebenaran

Kebenaran adalah nisbi

kebenaran sangat relatif, kecuali kebenaran tuuhan...

Tak boleh diingkarai oleh setiap insan yang beriman

penipuan adalah palsu kepalsuan dilarang agama

Demikian tita Ar Rosul SAW


Oh.....tuhan mengapa orang - orang menolak kebenaran..

semoga,, petunjuk,, hidayahMu menerangi batin mereka


samping facebook branda
00.38 rabu malam 261109

Selasa, 24 November 2009

2012

FILM 2012 yang digarap oleh sutradara Jerman Roland Emmerich itu sekarang menjadi kegemparan di sejumlah kota di Indonesia. Ribuan orang berduyun-duyun ke gedung bioskop untuk menyaksikannya. Pertama kali pergi bersama isteri ke gedung bioskop Cineplex 21 di Setiabudi Building, saya tidak mendapatkan tiket. Semua tiket ludes, bahkan hingga pertunjukan paling akhir selepas tengah malam. Kebetulan saat itu adalah malam Minggu.



Seminggu kemudian, saya datang kembali, tetap bersama isteri, untuk menonton film itu. Kali ini lumayan beruntung, karena akhirnya kami mendapatkan tiket. Tetapi, kami harus sedikit memendam rasa kecewa, karena mendapatkan tempat duduk persis satu baris sebelum deretan kursi yang paling depan, hanya beberapa meter saja dari layar. Selama film itu diputar, saya harus menonton film itu dengan sedikit mendongak. Usai menonton, leher saya terasa pegal-pegal.



Kenapa film ini mendadak menjadi kegemparan? Pertama, karena judulnya sendiri, 2012. Konon, itulah tahun yang diramalkan sebagai akhir dunia atau kiamat. Publik tentu penasaran, seperti apakah dunia kalau kiamat nanti datang. Kedua, ada komentar dari salah satu petinggi MUI, yaitu H. Amidhan, bahwa film ini mengandung propaganda ‘agama’ tertentu. Maksudnya mungkin agama Kristen (saya tidak tahu, dari sudut mana film ini mengandung unsur propaganda Kristen; Roland Emmerich jelas seorang agnostik, dan tidak peduli dengan soal kekristenan).



Bahkan ada rumor bahwa film ini akan dilarang beredar, karena dianggap tidak ‘Islami’. Khawatir film ini tidak lagi beredar di pasaran, publik tak sabar untuk segera menontonnya. Sebuah media bahkan memberitakan bahwa di Bali, sejumlah penonton rela membeli tiket dengan harga dua kali lipat dari seorang calo.



Suatu kejadian yang menarik saya alami ketika saya menonton film ini Sabtu kemaren, 21/11/09, di teater Hollywood Kartika Chandra. Saya menyaksikan ibu-ibu berjilbab yang ikut antri menonton film ini. Saya mempunyai kesan, mereka ini tampaknya bukanlah ibu-ibu yang masuk dalam kategori “movie goers” atau penggemar film, tetapi ibu-ibu majlis ta’lim yang mungkin baru seumur-umur menonton film. Mungkin karena mendapat kabar ‘burung’ bahwa film ini berkenaan tentang hari kiamat, mereka tergerak untuk menonton. Mungkin juga karena film ini dipersoalkan oleh seorang petinggi MUI, sehingga mereka jadi penasaran untuk melihatnya langsung.



Ala kulli hal, komentar “miring” H. Amidhan dari MUI itu justru menjadi “iklan gratis” bagi film tersebut. Mestinya, produser film 2012 harus memberikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Bapak Amidhan karena telah menjadi “juru iklan gratis” bagi film itu.



Apakah benar ini adalah film tentang hari kiamat? Jawaban saya dengan tegas: Tidak. Ini bukanlah film tentang “doomsday,” atau yaum al-qiyamah, dalam istilah Islamnya. Ini adalah film tentang bencana alam, natural disaster, dalam skala yang kolosal. Kalau mau pakai idiomnya Bung Karno, ini adalah tentang embahnya bencana alam.



Selama ini, sutradara Roland Emmerich memang dikenal sebagai spesialis di bidang film-film bencana alam. Salah satu filmnya yang sering saya tonton dan tak bosan-bosan adalah “Independence Day”. Fantasi Emmerich dalam film ini sungguh memukau: tentang serangan makhluk “asing” dari luar angkasa yang hendak menjajah bumi dan menghancurkan peradaban manusia. Digambarkan dalam film itu sebuah piring raksasa yang menggantung di atas sejumlah kota besar di seluruh dunia.



Film Emmerich yang lain dan sangat laris adalah “The Day After Tomorrow”, tentang “pendinginan global” (bukan pemanasan global) di masa yang akan datang dan kembalinya Zaman Es (Ice Age).



Sebagaimana film-film Emmerich yang lain, film 2012 mempunyai ciri khas yang sama: yaitu fantasi yang liar tentang adanya bencana alam yang maha hebat, dan usaha manusia untuk “survive” atau selamat dari bencana itu. Film 2012 berbicara tentang dislokasi atau pergeseran lempeng bumi secara global yang menimbulkan tanah longsor dan gempa bumi di sekujur bumi. Bayangkan, gempa bumi di seluruh bumi! Gempa itu berkekuatan rata-rata di atas 9 dalam skala richter. Karena dislokasi itu, hampir sebagian besar kota-kota besar dunia ambles. Akibatnya, terjadilah tsunami global berupa ombak laut yang tingginya kira-kira 1500 meter. Tak ada satupun permukaan bumi yang selamat dari hempasan tsunami ini, kecuali pucuk tertinggi Gunung Himalaya.



Apakah manusia musnah karena terjangan tsunami raksasa ini? Di sinilah seluruh kisah film 2012 berpusat. Film ini, sebagaimana film-film Emmerich yang lain, berkisah tentang “ikhtiar” manusia untuk selamat dari hempasan tsunami gigantik ini. Manusia tidaklah obyek pasif berhadapan dengan alam yang sedang “mengamuk”. Manusia memiliki kemampuan untuk “mengatasi” musibah alam dengan skala global itu.



Dalam film itu, digambarkan bahwa datangnya bencana geologi global tersebut sebenarnya sudah diprediksi oleh sejumlah ilmuwan. Suatu proyek rahasia dengan skala global yang melibatkan sebagian besar pemerintahan negara-negara besar dunia diam-diam dimulai. Yaitu membangun enam atau tujuh kapal besar yang mampu bertahan menghadapi hempasan tsunami raksasa. Kapal itu dibangun di sebuah tempat yang rahasia sekali di daratan Cina. Tentu saja, keseluruhan proyek ini adalah rahasia kelas wahid. Prediksi tentang bencana global yang mengerikan itu juga sama sekali tak diberitahukan ke publik, sampai detik-detik terakhir, khawatir akan menimbulkan kekacauan global.



Di lain pihak, film ini juga menggambarkan tentang perjuangan hidup-mati seorang penulis dari Los Angeles, Jackson Curtis (diperankan oleh John Cusack), pengarang novel yang sama sekali tak laku (hanya terbit 500 eksemplar) berjudul “Farewel Atlantis” yang juga berbicara tentang semacam bencana hebat. Perjuangan Curtis untuk selamat dari gempa dahsyat dan longsor bumi yang menghempas Los Angeles digambarkan dengan dramatis dalam film ini.



Salah satu daya tarik film ini adalah penggambaran tentang usaha untuk selamat dari situasi maut dalam hitungan detik. Siapapun tahu inilah “bumbu” dalam film-film laga Hollywood yang menjadikannya laris-manis seperti kacang goreng. Salah satu adegan dalam film ini yang membuat penonton menghela nafas adalah saat kapal induk raksasa John F. Kennedy menerjang Gedung Putih bersamaan dengan tsunami raksasa yang menghempas kota itu. Walaupun kita semua tahu ini adalah efek yang diciptakan melalui manipulasi komputer, tetapi adegan itu sendiri tetaplah memukau.



Ujung film itu jelas: Curtis, mantan isterinya beserta kedua anaknya yang berjuang hidup mati untuk mencapai daratan Cina untuk naik kapal induk akhirnya berhasil. Peradaban manusia tidak musnah di tengah banjir global yang melanda seluruh permukaan bumi. Kapal induk itu membawa manusia dan sejumlah binatang untuk melanjutkan kehidupan baru paska-banjir. Misi kapal itu memang jelas: menyelamatkan spesies manusia dan peradabannya dari kepunahan.



Barangsiapa pernah membaca kisah tentang Nabi Nuh, sebetulnya akan segara tahu bahwa kerangka film ini memang diambil dari kisah itu. Mungkin kebetulan, atau mungkin juga disengaja oleh Emmerich atau penulis skenario, bahwa anak laki-laki Jackson Curtis, salah satu tokoh utama dalam film itu, bernama Noah (versi Inggris dari nama Nuh dalam bahasa Arab).



DALAM sebuah wawancara di TV, H. Amidhan dari MUI berkata bahwa film itu tidak sesuai dengan semangat Islam. Alasannya, antara lain, bahwa hari kiamat termasuk barang gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Tuhan. Oleh karena itu visualisasi hari kiamat tidak diperbolehkan.



Saya sebetulnya tidak ingin menganggap serius pernyataan “ngawur” tokoh MUI ini. Tetapi kalau sekedar mau “uji argumen”, maka saya bisa menjawabnya sebagai berikut. Pertama, ini jelas bukanlah film tentang hari kiamat. Ini adalah film tentang bencana alam global yang dahsyat. Bencana ini tidak membuat dunia musnah dan manusia hilang dari pemukaan bumi. Kalau kita merujuk pengertian “hari kiamat” dalam nomenklatur Islam, jelas apa yang disebut kiamat di sana dipahami sebagai momen berakhirnya dunia tempat manusia hidup. Kehidupan dunia, setelah itu, berakhir, digantikan dengan kehidupan lain yang sering disebut “akhirat”, atau “hereafter” dalam istilah Inggris.



Dalam film ini, dunia digambarkan tidak berakhir. Dunia masih terus ada setelah bencana besar itu, dan manusia selamat dari hempasan tsunami global untuk akhirnya menemukan kembali “dunia dan kehidupan baru” di Afrika, tepatnya di Semenanjung Harapan (Cape of Good Hope di Afrika Selatan). Jadi keliru sama sekali manakala H. Amidhan dari MUI menganggap bahwa film ini adalah tentang hari kiamat.



Kedua, apakah betul visualisasi tentang hal yang gaib tidak diperbolehkan dalam Islam? Dari mana hukum itu dipeorleh oleh H. Amidhan? Dalam Quran sendiri kita jumpai banyak visualisasi yang memikat tentang hari kiamat. Salah satu penggambaran hari kiamat yang agak-agak mendekati film Emmerich ini ada dalam Surah al-Takwir (surah no. 81). Ayat ketiga dalam Surah itu berbunyi “wa idza ‘l-jibalu suyyirat”, ketika gunung berjalan. Dalam film Emmerich itu, digambarkan suatu proses dislokasi geologis yang dahsyat sehingga lanskap bumi berubah total. Gunung-gunung pindah lokasi, dan peta dunia seperti disusun kembali.



Sekali lagi, tak ada larangan apapun dalam Islam untuk memvisualisasi semua hal yang gaib, terutama hari kiamat.



Ketiga, film ini, dalam pandangan saya, justru sesuai dengan semangat Islam. Film ini “mengajarkan” (tentu ini istilah yang terlalu “dramatis” untuk sebuah film yang tidak diniatkan sebagai sebuah “ajaran agama”) tentang pentingnya ikhtiar dan optimisme walaupun manusia sedang dilanda bencana dahsyat yang seolah-olah di luar kekuasaan mereka. Manusia bukanlah makhluk yang tunduk saja pada “nasib”, tetapi mampu berikhitiar. Dalam keadaan yang sesulit apapun, manusia tetap harus berusaha dan memiliki harapan. Bukankah ini adalah “nilai” yang justru sesuai dengan semangat “Islam”, Bapak Amidhan?



Sebagai penutup, film ini sebetulnya tidak menarik dari segi cerita. Kalau anda mengharapkan plot cerita yang penuh nuansa dan menarik dari film ini, maka siap-siaplah untuk kecewa. Film ini menarik bukan dari segi plot ceritanya, tetapi dari sudut efek-efek visual yang sangat mengagumkan. Fantasi tentang bencana alam yang tak pernah terpikirkan oleh kita dan efek-efek visual yang dengan cerdik dimanipulasi oleh Emmerich untuk menggambarkannya adalah salah satu daya tarik film ini.



Ala kulli hal, saya terhibur sekali dengan film ini.[]

sumber http://gusulil.wordpress.com/2009/11/23/catatan-tentang-film-2012/
In February of 2006, Sara and I traveled through Italy leading up to attending the Winter Olympics in Torino. As we often do when we travel, we posted a note on the Wooster website saying that we'd love to meet up with local artists in Milan, Florence, and Rome.

On February 9th, when we arrived in Milan, we posted a note on the site letting people know that we'd all be meeting at the statue in the Piazza Duomo. We had no idea who - and how many - people would show up.

It turned out to be an amazing evening. Amongst the twenty-five or so people who joined us was Blu. He had traveled by train from his hometown in Bologna earlier that morning. It was the first time we had ever met Blu, and Sara and I were delighted that he had come all the way just to see us.

At the end of the night, Blu handed us a small wooden box. He told us that inside was one of his sketchbooks. He said that each week he did a new sketchbook and that he wanted us to have the one he had just completed. Sara and I were blown away by his thoughtfulness and ever since it's been one of our favorite gifts. Not just for the wonderful drawings inside but for the intimacy of the gift itself.

The other week Blu came over for dinner and we showed a few friends the sketchbook. It occurred to us that because it's a book in a box and not something to hang on a wall, very few people will actually get to see it. So this morning Sara and I did a short video "tour" of the book. We hope you like it as much as we do....

Minggu, 22 November 2009

jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam
neraka, dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
campakkanlah aku keluar dari dalam surga, tetapi jika aku menyembah-Mu
demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan
wajah-Mu yang abadi kepadaku. Sumber: Do'a Rabiah Al-Adawiyah
Tidaklah termasuk yg terbaik diantara kalian yg meninggalkn dunia untuk kepentingan akhirat, dan tdk pula yg meninggalkn akhirat untuk kepentingan dunia.....tetapi hnyalah yg mengambil bagian dari keduanya. (Huzaifah bin husail bin yabir Al Yamani)